ID EN

Desa Adat Sade Terbakar, Pariwisata Budaya Lombok Menghadapi Ujian Berat

Senin, 31 Agustus 2026 | 16:02

Penulis: Rojes Saragih

Puing-puing sisa kebakaran terlihat di Desa Adat Sade, Lombok Tengah, NTB
Puing-puing sisa kebakaran terlihat di Desa Adat Sade, Lombok Tengah, NTB, Kamis (27/8/2026). Foto: Antara/Ahmad Subaidi

Desa Adat Sade di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), selama bertahun-tahun menjadi salah satu tempat wisata budaya yang memperkenalkan kehidupan Suku Sasak kepada wisatawan.

Rumah-rumah tradisional, aktivitas menenun, kesenian, serta kehidupan masyarakat adat menjadi bagian dari pengalaman wisatawan ketika berkunjung ke kawasan itu.

Kini, wajah Desa Adat Sade berubah setelah kebakaran melanda kawasan itu pada 22 Agustus 2026. Api tidak hanya menghanguskan bangunan, tetapi juga menghantam ruang hidup masyarakat dan aktivitas ekonomi yang selama ini tumbuh dari pariwisata.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyebut total perkiraan kerugian akibat kebakaran mencapai Rp33,84 miliar.

"Kami telah mendapat laporan total kerugian ada Rp33,84 miliar dan kami telah melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah," kata Widiyanti dalam Rapat Kerja Bersama Komisi VII DPR RI di Jakarta, Senin, 31/08/2026.

Data pemerintah mencatat sebanyak 75 rumah adat terdampak. Kebakaran juga merusak sejumlah bangunan tradisional yang menjadi bagian dari kawasan Sade, terdiri atas empat Berugak Sekenam, enam Berugak Sakepat dan satu Bale Beleq.

Kerusakan tidak berhenti pada rumah dan bangunan adat. Sebanyak delapan lumbung padi, satu toilet umum, satu gerbang, satu pelonggu, satu masjid adat, serta 69 artshop milik UMKM lokal turut terdampak.

Di balik angka-angka itu, terdapat kehidupan ratusan warga yang selama ini menggantungkan penghasilan dari keberadaan wisatawan.

Sebanyak 320 pelaku pariwisata atau 189 kepala keluarga terdampak kebakaran. Mereka terdiri atas 75 pemandu lokal, 120 perajin tenun, 60 penjual suvenir dan pelaku UMKM, 30 penari dan pemain gendang beleq, 15 pengelola parkir dan keamanan, serta 20 anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

Bagi mereka, kebakaran bukan sekadar hilangnya bangunan. Api juga berarti hilangnya tempat bekerja, tempat berjualan, ruang berkesenian, dan sebagian dari kehidupan yang selama ini dibangun bersama pariwisata.

Ribuan Wisatawan Pernah Datang

Desa Adat Sade merupakan salah satu dari 21 dusun yang berada di Desa Wisata Rembitan. Dalam aplikasi Jejaring Desa Wisata (Jadesta), Desa Wisata Rembitan saat ini berada dalam kategori berkembang.

Menurut Widiyanti, Desa Sade rata-rata menerima sekitar 200 kunjungan wisatawan setiap hari. Ketika musim ramai atau peak season, jumlahnya dapat melonjak menjadi 500 hingga 1.000 wisatawan per hari.

Arus wisatawan itu ikut menggerakkan ekonomi masyarakat.

Pada musim sepi (low season), perputaran ekonomi di Desa Sade diperkirakan mencapai Rp22,5 juta hingga Rp35 juta per hari. Ketika musim ramai, angkanya dapat mencapai sekitar Rp50 juta per hari.

Angka itu memperlihatkan bahwa pariwisata di Sade bukan sekadar soal wisatawan datang, mengambil foto, lalu pergi.

Di belakang setiap kunjungan terdapat pemandu yang bekerja, perajin yang menjual hasil tenun, pedagang suvenir, seniman yang tampil, hingga warga yang mengelola parkir dan keamanan.

Karena itu, ketika bangunan dan fasilitas wisata terbakar, dampaknya ikut menjalar kepada rantai ekonomi masyarakat.

Berusaha Menghidupkan Kembali Sade

Pemerintah kini menyiapkan penanganan jangka pendek dan jangka panjang. Pada tahap awal, pemerintah menyediakan dan mendistribusikan stok makanan bagi warga terdampak, menjalankan program pemberdayaan masyarakat dan pelaku pariwisata, menyediakan trauma healing, serta memberikan bimbingan teknis dan pemberdayaan Pokdarwis.

Kementerian Pariwisata juga berupaya menyediakan dapur umum dan bantuan logistik melalui Politeknik Pariwisata Lombok, bekerja sama dengan BNPB, TNI/Polri dan Palang Merah Indonesia (PMI).

Pemerintah juga merencanakan pembangunan museum sementara dan masjid agar aktivitas di kawasan tersebut dapat kembali berjalan.

Langkah itu menjadi penting karena pemerintah berharap Desa Sade tetap dapat dikunjungi wisatawan, termasuk ketika gelaran MotoGP berlangsung di Lombok.

"Sehingga saat event MotoGP nanti masih bisa dikunjungi oleh wisatawan," ujar Widiyanti.

Untuk jangka panjang, pemerintah berencana membentuk tim kerja lintas kementerian dan lembaga untuk memulihkan Desa Sade. Rencananya mencakup pembentukan satu akun donasi, penyusunan master plan rekonstruksi hingga pembangunan rumah layak tinggal.

Pemulihan Sade pada akhirnya bukan hanya tentang membangun kembali rumah yang terbakar.

Ada tradisi yang harus dijaga, mata pencaharian yang harus dihidupkan kembali, serta ruang budaya yang selama ini menjadi jembatan antara masyarakat Suku Sasak dan wisatawan dari berbagai daerah maupun mancanegara.

Api mungkin telah menghanguskan sebagian wajah Desa Adat Sade. Namun, tantangan terbesar setelah bara padam adalah memastikan kehidupan masyarakat dan denyut pariwisata di desa itu kembali menyala.

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!