ID EN

Persija Era Shin Tae-yong Mulai Berubah, Defense Jadi Fondasi dan Jeremejeff Jadi Kunci

Senin, 7 September 2026 | 18:45

Penulis: Rojes Saragih

Persija Jakarta mulai memperlihatkan karakter permainan yang ingin dibangun Shin Tae-yong. Kemenangan 1-0 atas Borneo FC di Stadion Segiri, Samarinda, Sabtu (5/9/2026), bukan sekadar tentang tiga poin.

Ada perubahan cara bermain yang mulai terlihat, terutama bagaimana Persija membangun permainan dari pertahanan, mengelola tekanan, dan tetap berani memainkan bola di kandang lawan.

Persija memang tidak sepenuhnya mendominasi pertandingan. Borneo melepaskan 17 tembakan dengan sembilan tepat sasaran, sedangkan Persija menghasilkan delapan tembakan dan tiga mengarah ke gawang.

Namun, Persija unggul penguasaan bola 56 persen berbanding 44 persen serta mencatat 451 umpan sukses.

Data itu menunjukkan Persija mampu mengontrol sejumlah fase pertandingan melalui sirkulasi bola, meski Borneo lebih produktif dalam menciptakan peluang. Ketika tekanan datang, Persija juga tidak kehilangan struktur.

Di sinilah karakter STY mulai terlihat. Defense menjadi base permainan Persija. Pertahanan bukan sekadar cara menghentikan serangan lawan, tetapi fondasi untuk membangun permainan.

Dari belakang, Persija menjaga struktur sebelum mengembangkan serangan ke area yang lebih tinggi.

Nadeo Argawinata menjadi bagian penting dari fondasi tersebut. Ketika Borneo memberikan tekanan, organisasi lini belakang dan konsentrasi penjaga gawang menjadi penentu.

Persija akhirnya mampu menjaga clean sheet sekaligus mempertahankan keunggulan sampai peluit akhir.

Namun, fondasi pertahanan tidak membuat Persija bermain pasif. Serangan tetap dikembangkan melalui sisi sayap maupun tengah. Salah satu hasilnya terlihat pada menit 45+1 ketika umpan silang Kerim Memija diselesaikan Alexander Jeremejeff dengan sundulan.

Jeremejeff menjadi puzzle yang mulai terjawab di lini depan. Penyerang asal Swedia itu langsung memberikan kontribusi paling konkret melalui gol kemenangan.

Kehadirannya membuat Persija memiliki target yang lebih jelas setelah serangan dibangun dari belakang dan dikembangkan melalui sisi lapangan.

Di belakangnya, Rizky Ridho menarik untuk dibaca secara taktikal. Ridho tampil penuh sebagai bek tengah, tetapi dalam beberapa fase terlihat bergerak lebih maju untuk membantu sirkulasi bola dan menghubungkan lini belakang dengan area midfield.

Fungsi tersebut membuat perannya menyerupai libero modern. Bukan berarti posisi resminya berubah menjadi gelandang, tetapi fleksibilitas fungsi itu memberi Persija opsi tambahan ketika membangun serangan dari belakang.

Witan Sulaeman juga memberikan variasi di lini depan. Ia tampil sebagai starter dan menciptakan peluang pada menit ke-25 sebelum digantikan pada menit ke-76.

Pergerakannya menjadi salah satu elemen yang membuat serangan Persija tidak hanya bergantung pada satu pola.

Sementara itu, Denis Kolinger memberikan tambahan kekuatan di lini belakang. Bek asal Kroasia tersebut tampil sejak awal bersama Ridho dan Radovan Pankov. Kehadirannya memberi STY pilihan tambahan untuk membangun pertahanan yang lebih kokoh.

Jika kepingan tersebut disatukan, gambarnya mulai terlihat: defense sebagai fondasi, Ridho dengan fungsi fleksibel, Witan sebagai sumber variasi, Kolinger yang memperkuat lini belakang, dan Jeremejeff sebagai puzzle di posisi striker.

Hal lain yang menarik adalah kematangan Persija dalam mengelola pertandingan. Setelah unggul, mereka tidak terburu-buru mengubah permainan menjadi sekadar bertahan. Persija tetap berusaha memainkan bola sambil menjaga struktur ketika Borneo meningkatkan tekanan.

STY sendiri menilai Persija belum menunjukkan bentuk terbaiknya. Ia menyebut timnya baru memperlihatkan sekitar 50 persen kemampuan sebenarnya dan mengakui Borneo bermain lebih baik.

Artinya, kemenangan tersebut bisa dibaca sebagai hasil efektivitas sekaligus fondasi permainan yang mulai terbentuk.

Pembacaan itu menjadi salah satu bahasan dalam Podcast ITSMe di Studio Sentul, Bogor, Senin (7/9/2026) yang dipandu Raisha dan Gilang Respaty.

Pengamat sepak bola Yusuf Kurniawan atau Bung Yuke dan Erwin Fitriansyah membedah perubahan Persija di era STY, perkembangan Witan dan Ridho, fungsi Ridho di area midfield, pemain anyar, hingga Jeremejeff sebagai puzzle penting di lini depan.

Kemenangan di Samarinda akhirnya tidak hanya bisa dilihat dari skor 1-0. Persija mulai memperlihatkan fondasi baru: bertahan dengan struktur, bermain lebih dewasa, dan menyerang dengan tujuan yang jelas.

Jika proses ini terus berkembang, Persija bukan hanya mengejar hasil, tetapi juga mulai menemukan identitas di bawah Shin Tae-yong.