Dari Peckham ke San Siro, Perjalanan Panjang Djed Spence Menuju Inter Milan
Senin, 17 Agustus 2026 | 09:00
Penulis: Rojes Saragih

Jakarta - Sekitar dua tahun lalu, Djed Spence datang ke San Siro sebagai pemain Genoa. Ia masuk pada menit ke-63 ketika Inter Milan menang 2-1 atas klubnya dalam pertandingan Serie A, 4 Maret 2024.
Kini, Spence kembali ke stadion yang sama. Bedanya, ia tidak lagi datang sebagai lawan.
Bek sayap timnas Inggris itu resmi menjadi pemain Inter Milan setelah Nerazzurri mengumumkan perekrutan permanennya dari Tottenham Hotspur pada Sabtu (15/8/2026). Spence menandatangani kontrak hingga 30 Juni 2031.
BACA JUGA
Legenda Serie A Ramal Jay Idzes Bakal ke Klub Raksasa Eropa, Ini Alasannya
Inggris vs Argentina: Siapa ke Final Piala Dunia 2026? Analisis Ronny Pangemanan & Kesit
Inter Milan Comeback Dramatis, Tumbangkan Como 3-2 dan Lolos ke Final Coppa Italia
Inter tidak mengungkapkan nilai transfer dalam pengumuman resminya, tetapi laporan media menyebut kesepakatan itu berada di kisaran 30 juta euro. Reuters juga melaporkan transfer permanen tersebut dengan kontrak hingga 2031.
Kepindahan ini menjadi babak baru dari perjalanan karier Spence yang tidak selalu berjalan mulus. Perjalanannya dimulai jauh dari panggung besar sepak bola Eropa, dari lapangan sepak bola akar rumput di Peckham, London Selatan.
Berawal dari Peckham
Spence lahir di London pada 9 Agustus 2000 dari keluarga keturunan Jamaika.
Ketika berusia enam tahun, ibunya membawanya ke Peckham Town, klub amatir yang berada di lingkungan tempat ia tumbuh. Di sana Spence mulai mengenal sepak bola terorganisasi.
Sejak kecil, sepak bola sudah menjadi bagian besar kehidupannya. Ia bermain di sekolah, taman, hingga lapangan-lapangan kecil di sekitar Peckham.
Spence kemudian bergabung dengan Junior Elite di Croydon. Menariknya, ketika itu ia bukan seorang bek.
Ia bermain sebagai pemain sayap dan mengidolakan Cristiano Ronaldo serta Ronaldinho. Ronaldo bahkan menjadi pemain favoritnya.
Namun, seorang pelatih di Junior Elite kemudian memintanya mencoba posisi full-back.
Perubahan tersebut ternyata menjadi titik penting dalam kariernya.
Spence mampu menjalankan peran baru dengan baik. Ia berkembang menjadi pemain yang bisa bergerak naik turun di sisi lapangan, memiliki kemampuan menyerang sekaligus bertahan.
Dari sepak bola akar rumput, jalannya kemudian membawa Spence ke akademi Fulham pada 2016.
England Football mencatat perjalanan tersebut sebagai bagian penting dari kisah perkembangan Spence sebelum akhirnya menembus sepak bola profesional.
Menemukan Momentum di Nottingham
Setelah dua tahun di akademi Fulham, Spence melanjutkan perjalanan ke Middlesbrough.
Ia melakukan debut Championship pada Desember 2019 dan kemudian mencetak gol pertamanya beberapa pekan berselang.
Namun, kariernya di Middlesbrough belum benar-benar berkembang.
Kesempatan besar datang ketika ia dipinjamkan ke Nottingham Forest pada musim 2021/22.
Di Forest, Spence menemukan momentum yang selama ini dicari.
Ia tampil menonjol dan membantu klub tersebut meraih promosi ke Premier League. Penampilannya di Piala FA, termasuk ketika menghadapi Arsenal dan Leicester City, turut membuat namanya semakin diperhitungkan.
Tottenham kemudian membawanya kembali ke London pada musim panas 2022.
Namun, perpindahan ke Spurs tidak langsung membuat kariernya melesat.
Spence justru kembali harus menjalani masa peminjaman. Ia bermain untuk Rennes di Prancis, Leeds United, kemudian Genoa di Italia.
Di Genoa, ia mendapat pengalaman penting di Serie A.
Selama enam bulan pada 2024, Spence mencatatkan 16 penampilan di kompetisi kasta tertinggi Italia. Salah satu pertandingan yang paling berkesan tentu saja ketika Genoa menghadapi Inter di San Siro.
Inter menang 2-1 malam itu. Spence masuk sebagai pemain pengganti pada menit ke-63.
Saat itu, tidak ada yang tahu bahwa San Siro kelak akan menjadi rumah barunya.
Titik Balik di Tottenham
Setelah kembali dari masa pinjaman, Spence mulai mendapatkan kepercayaan lebih besar di Tottenham.
Musim 2024/25 menjadi salah satu titik balik penting. Ia turut menjadi bagian dari skuad Spurs yang memenangkan Liga Europa setelah mengalahkan Manchester United 1-0 di final di Bilbao pada 21 Mei 2025.
Spence bahkan masuk sebagai pemain pengganti dalam pertandingan final tersebut.
Perkembangannya kemudian membawanya ke tim nasional Inggris.
Ia melakukan debut senior pada September 2025 dan mulai mendapatkan tempat dalam rencana Thomas Tuchel.
Musim 2025/26 menjadi periode penting lainnya. Spence mencatatkan 44 penampilan untuk Tottenham di berbagai kompetisi dan semakin dikenal karena fleksibilitasnya bermain di kedua sisi pertahanan.
Secara keseluruhan, ia meninggalkan Spurs dengan 85 penampilan dan satu trofi Liga Europa.
Namun, Tottenham akhirnya memilih melepasnya setelah persaingan di sektor bek sayap semakin ketat.
Piala Dunia dengan Rahang Patah
Transfer ke Inter datang tidak lama setelah Spence melewati pengalaman terbesar dalam karier internasionalnya.
Piala Dunia 2026 sempat terancam bagi Spence setelah ia mengalami patah rahang pada akhir musim bersama Tottenham.
Ia tetap berangkat ke Amerika Utara bersama Inggris dengan menggunakan pelindung khusus.
Cedera tersebut tidak menghentikannya.
Spence tampil dalam seluruh delapan pertandingan Inggris di Piala Dunia dan menjadi salah satu pemain yang memberikan opsi penting bagi Tuchel di sektor sayap.
England Football mencatat bahwa ia tampil di setiap pertandingan Inggris, meskipun tidak selalu menjadi starter.
Salah satu momen terbaiknya terjadi pada semifinal melawan Argentina.
Ketika Giuliano Simeone lolos menuju kotak penalti, Spence melakukan tekel tepat waktu untuk menggagalkan peluang tersebut. Inggris akhirnya kalah 1-2 dan gagal ke final, tetapi kemudian merebut posisi ketiga setelah mengalahkan Prancis.
Piala Dunia itu membuat nilai Spence semakin tinggi.
Ia datang ke Inter bukan hanya sebagai pemain yang memiliki pengalaman Serie A, tetapi sebagai pemain Inggris yang baru saja tampil dalam delapan pertandingan di panggung terbesar sepak bola dunia.
Mengisi Kebutuhan Inter
Kedatangan Spence juga datang pada saat yang tepat bagi Inter.
Sebelumnya, Nerazzurri kehilangan Denzel Dumfries yang pindah permanen ke Real Madrid pada 5 Juli 2026 setelah klausul pelepasannya diaktifkan.
Dumfries meninggalkan Inter setelah mencatatkan 207 penampilan, 27 gol dan 28 assist serta memenangkan delapan trofi bersama klub Italia tersebut.
Inter membutuhkan tambahan tenaga di sektor wing-back dan Spence menawarkan karakter yang menarik.
Ia memiliki kecepatan, akselerasi dan kemampuan satu lawan satu. Ia juga terbiasa bermain di kedua sisi lapangan sehingga memberikan fleksibilitas dalam sistem permainan Inter.
Dengan karakter tersebut, Spence bukan sekadar pemain yang datang untuk mengisi daftar skuad.
Ia datang setelah melewati proses panjang untuk menemukan posisi terbaiknya.
Dari winger muda yang mengidolakan Ronaldo, ia berubah menjadi full-back. Dari Peckham Town, ia menembus akademi Fulham, Middlesbrough, Nottingham Forest dan Tottenham.
Ia sempat dipinjamkan ke tiga klub berbeda setelah bergabung dengan Spurs, sebelum akhirnya membangun kembali kariernya.
Kini, perjalanan itu membawanya kembali ke Italia.
Kembali ke San Siro, Kali Ini sebagai Pemain Inter
Ada sesuatu yang membuat transfer ini terasa seperti sebuah lingkaran yang lengkap.
Pada Maret 2024, Spence berdiri di lapangan San Siro sebagai pemain Genoa dan menjadi bagian dari tim yang kalah dari Inter.
Lebih dari dua tahun kemudian, ia kembali ke tempat yang sama.
Kali ini dengan seragam biru-hitam.
Dari lapangan kecil Peckham hingga Piala Dunia 2026, perjalanan Spence dipenuhi perpindahan, tantangan dan kesempatan kedua.
Kini ia memiliki kontrak hingga 2031 bersama Inter Milan.
Babak berikutnya dalam perjalanan Djed Spence tidak lagi tentang mencari tempat.
Ia datang ke San Siro untuk mempertahankan tempatnya di level tertinggi.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!