Cristian Romero Resmi ke Atletico Madrid, Jawaban Simeone untuk Lini Belakang
Minggu, 16 Agustus 2026 | 13:00
Penulis: Rojes Saragih

Jakarta - Atletico Madrid resmi mendatangkan Cristian "Cuti" Romero dari Tottenham Hotspur. Bek timnas Argentina itu menandatangani kontrak hingga 30 Juni 2031, mengakhiri lima tahun perjalanannya di London Utara sekaligus membuka babak baru di bawah asuhan Diego Simeone.
Transfer Romero menjadi lebih dari sekadar aktivitas Atletico di bursa musim panas. Simeone mendapatkan bek tengah dengan karakter yang sangat dekat dengan identitas sepak bola yang selama ini dibangunnya: agresif dalam duel, berani memotong serangan lawan dan memiliki keberanian untuk bermain keras di lini belakang.
Atletico mengonfirmasi kesepakatan dengan Tottenham pada Sabtu, 15/08/2026. Nilai transfer tidak diumumkan klub, tetapi laporan BBC dan Reuters menyebut Atletico membayar sekitar 34,2 juta poundsterling untuk pemain berusia 28 tahun tersebut. Romero dikontrak selama lima musim.
BACA JUGA
Lee Kang-in Tinggalkan PSG, Atletico Madrid Amankan Gelandang Timnas Korea Selatan
Persib Bandung Resmi Rekrut Gelandang Asal Jepang Gakuto Notsuda
Misi Berat De Zerbi Selamatkan Tottenham Hotspur dari Jurang Degradasi
Dalam pengumuman resminya, Atletico menggambarkan Romero sebagai bek tengah kanan yang "sangat fisikal, cepat dalam melakukan antisipasi dan tegas dalam melakukan tekel", sekaligus memiliki kualitas kepemimpinan yang kuat di lapangan.
Profil tersebut menjelaskan mengapa transfer Romero begitu menarik bagi Simeone.
Atletico tidak hanya mendapatkan pemain yang memiliki pengalaman di Premier League. Mereka mendapatkan bek yang terbiasa bermain dalam pertandingan dengan tekanan tinggi dan memiliki karakter untuk memimpin pertahanan.
Romero juga datang ke Madrid dengan modal pengalaman internasional yang sangat lengkap. Ia merupakan bagian dari tim Argentina yang menjuarai Piala Dunia 2022 dan baru saja tampil bersama Albiceleste hingga final Piala Dunia 2026. Atletico sendiri menempatkan statusnya sebagai finalis Piala Dunia 2026 dalam pengumuman kedatangannya.
Namun, sebelum menjadi pemain Atletico, Romero harus menutup cerita panjang bersama Tottenham.
Ia bergabung dengan Spurs dari Atalanta pada 2021, awalnya dengan status pinjaman. Tottenham kemudian mempermanenkan kepindahannya dan Romero berkembang menjadi salah satu pemain utama di lini belakang.
Selama lima musim, ia mencatatkan 156 penampilan di seluruh kompetisi, mencetak 13 gol dan memberikan tujuh assist. Ia kemudian dipercaya menjadi kapten Tottenham pada musim terakhirnya.
Puncak perjalanan Romero di London terjadi pada 2025.
Ia menjadi bagian penting ketika Tottenham mengalahkan Manchester United 1-0 di final Liga Europa. Kemenangan itu mengakhiri penantian 17 tahun Tottenham untuk meraih trofi dan menjadi gelar Eropa pertama klub tersebut dalam 41 tahun. Romero bahkan dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan dan pemain terbaik turnamen.
Bagi Romero, keberhasilan itu merupakan jawaban atas ambisinya ketika pertama kali tiba di Tottenham.
Dalam pesan perpisahannya, ia mengatakan memiliki "mimpi yang jelas" untuk meninggalkan namanya dalam sejarah klub.
“Saya meninggalkan Tottenham dengan hati yang penuh kenangan dan kebanggaan atas semua yang telah kami lalui dan capai bersama,” ujar Romero.
Ia mengakui tidak selalu menjadi pemain yang sempurna selama lima tahun di London. Namun, Romero menegaskan bahwa dirinya selalu memberikan yang terbaik dan membela Tottenham dengan kebanggaan serta sepenuh hati.
Kalimat itu terasa penting karena perjalanan Romero bersama Tottenham tidak selalu berjalan mulus.
Musim terakhirnya di London bahkan ditutup dengan situasi yang cukup rumit. Pertandingan terakhirnya terjadi saat melawan Sunderland pada April. Romero meninggalkan lapangan sambil menangis setelah mengalami cedera lutut yang kemudian membuatnya absen dalam enam pertandingan terakhir Tottenham di Premier League.
Pada periode tersebut, Spurs masih berada dalam pertarungan untuk menghindari degradasi. Romero juga sempat mendapat kritik setelah berencana berada di Argentina untuk menyaksikan Belgrano, klub pertamanya, tampil di final Primera Division Apertura.
Romero akhirnya kembali ke Inggris dan hadir ketika Tottenham mengalahkan Everton 1-0. Hasil itu memastikan Spurs bertahan di Premier League dan kembali finis di posisi ke-17.
Karena itu, kepergian Romero tidak bisa hanya dilihat sebagai transfer pemain yang meninggalkan klub setelah musim yang sulit.
Ia pergi setelah menyelesaikan misi yang pernah dibawanya ketika tiba di London: memenangkan trofi dan meninggalkan jejak dalam sejarah Tottenham.
Kini, Atletico berharap karakter yang sama menjadi bagian dari solusi Simeone.
Romero dikenal sebagai bek yang agresif dan tidak takut keluar dari garis pertahanan untuk memenangkan duel.
Sifat tersebut beberapa kali menjadi sumber kontroversi selama berada di Inggris, tetapi pada saat yang sama merupakan salah satu alasan mengapa ia begitu dihargai.
Di Atletico, agresivitas itu berpotensi mendapatkan lingkungan yang lebih sesuai.
Simeone selama bertahun-tahun membangun Atletico sebagai tim yang mengandalkan organisasi pertahanan, intensitas, disiplin dan keberanian dalam duel.
Romero tidak perlu mengubah karakter permainannya secara mendasar. Ia justru harus belajar menempatkan agresivitas tersebut dalam sistem yang lebih terstruktur.
Itulah yang membuat transfer ini menarik.
Simeone bukan hanya mendapatkan bek tengah baru. Ia mendapatkan pemain yang secara karakter memiliki banyak kesamaan dengan filosofi Atletico, tetapi juga membawa pengalaman Premier League, kompetisi Eropa dan dua edisi Piala Dunia.
Romero juga akan bergabung dengan sejumlah pemain Argentina di Atletico, termasuk Julian Alvarez. Lingkungan tersebut dapat membantu proses adaptasinya di Madrid setelah lima tahun menjalani kehidupan sepak bola Inggris.
Bagi Tottenham, kehilangan Romero berarti melepas kapten dan salah satu pemain paling berpengalaman di lini belakang.
Bagi Romero, kepindahan ini adalah kesempatan untuk memulai kembali setelah lima tahun yang penuh prestasi, kontroversi, cedera dan akhirnya sebuah trofi Eropa.
Ia meninggalkan Tottenham bukan sebagai pemain yang sempurna, seperti pengakuannya sendiri, tetapi sebagai pemain yang berhasil memberikan sesuatu yang sangat lama ditunggu klub.
Kini, di bawah Simeone, Romero menghadapi tantangan berbeda.
Ia tidak lagi sekadar dituntut menjadi bek agresif. Ia diharapkan menjadi salah satu fondasi pertahanan Atletico hingga 2031.
Jika Simeone berhasil menggabungkan agresivitas Romero dengan struktur pertahanan Atletico, transfer ini bisa menjadi lebih dari sekadar pembelian pemain.
Bisa jadi, inilah pertemuan antara seorang bek dengan karakter keras dan pelatih yang tahu persis bagaimana mengubah karakter tersebut menjadi kekuatan tim.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!