Dari Feeder ke Laut, Transjakarta Bersiap Hubungkan Jakarta dan Kepulauan Seribu
Senin, 17 Agustus 2026 | 11:00
Penulis: Rojes Saragih

Jakarta - Hampir satu dekade lalu, Transjakarta baru sebatas mengantar warga menuju pelabuhan sebelum mereka melanjutkan perjalanan dengan kapal ke Kepulauan Seribu.
Kini, perannya disiapkan jauh lebih besar. Mulai 2027, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana mengalihkan pengelolaan transportasi laut menuju Kepulauan Seribu dari Dinas Perhubungan kepada PT Transportasi Jakarta (Transjakarta).
Bukan hanya kapal. Operasional dan area pelabuhan keberangkatan juga akan masuk dalam pengelolaan Transjakarta.
BACA JUGA
Daftar Kota dengan Transportasi Publik Terbaik di Dunia 2025, Jakarta Nomor Berapa?
Transjakarta Perpanjang Operasional Blok M-Ancol, Traveler Bisa Pulang Lebih Larut
Antisipasi Lonjakan Penumpang, Transjakarta Tambah Bus ke Destinasi Wisata Favorit Lebaran
Rencana ini membuat Transjakarta tidak lagi sekadar menjadi moda transportasi darat yang mengantar penumpang sampai tepian Jakarta. Sistemnya disiapkan untuk terhubung dari darat hingga laut.
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Budi Awaluddin mengatakan pengalihan tersebut diarahkan untuk mengintegrasikan transportasi menuju Kepulauan Seribu dengan sistem layanan Transjakarta yang telah digunakan masyarakat Jakarta.
“Ke depan, bukan tidak mungkin layanan kapal ini akan terhubung langsung dengan moda darat seperti bus dan Mikrotrans di titik-titik keberangkatan,” kata Budi, Sabtu (15/8/2026).
Jika konsep itu terealisasi, perjalanan warga dari rumah menuju Kepulauan Seribu dapat berlangsung dalam satu rangkaian multimoda. Warga bisa menggunakan Mikrotrans atau bus Transjakarta menuju titik keberangkatan, kemudian melanjutkan perjalanan dengan kapal.
Namun, Budi menegaskan pola trayek dan titik keberangkatan masih dimatangkan bersama Transjakarta. Jadi, koneksi darat-laut tersebut belum dapat dianggap sebagai rute final.
Bukan Bus ke Laut
Istilah “Transjakarta ke Kepulauan Seribu” juga tidak berarti bus Transjakarta akan beroperasi di atas laut.
Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Basri Baco menjelaskan, moda yang digunakan tetap kapal. Yang dibawa ke laut adalah pola layanan Transjakarta: kapal diharapkan bergerak secara rutin pada rute yang ditentukan, tidak semata-mata menunggu penumpang penuh sebelum berangkat.
“Bukan bus ke laut, tapi kapal yang muter kayak Transjakarta,” ujar Basri.
Konsep tersebut penting bagi Kepulauan Seribu karena kapal bukan hanya sarana wisata. Transportasi laut merupakan bagian dari mobilitas masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pulau-pulau.
Dengan model layanan yang lebih teratur, pemerintah ingin menghadirkan kepastian mobilitas sekaligus memperluas akses transportasi publik bagi warga kepulauan.
Pelabuhan Jadi Bagian Penting
Perubahan terbesar bukan hanya pada armada.
Budi mengatakan Transjakarta nantinya juga menangani kegiatan operasional dan teknis pendukung, termasuk area pelabuhan. Dengan demikian, integrasi yang dirancang tidak berhenti pada perjalanan kapal, tetapi menyentuh titik perpindahan penumpang dari moda darat ke laut.
Rencana tersebut sebenarnya melanjutkan gagasan lama.
Pada 2016, Pemprov DKI sudah mengoperasikan feeder Transjakarta menuju Pelabuhan Kali Adem. Bus tersebut mengantar masyarakat dan wisatawan dari sejumlah titik di Jakarta menuju pelabuhan sebelum perjalanan dilanjutkan dengan kapal ke Kepulauan Seribu.
Kini, konsepnya hendak dinaikkan satu tingkat.
Jika dahulu Transjakarta berhenti di pelabuhan, mulai 2027 Transjakarta disiapkan ikut mengelola perjalanan lautnya.
Ambisi Besar, Pekerjaan Rumah Juga Besar
Ekspansi ini tentu membutuhkan lebih dari sekadar pengalihan kewenangan.
Pengamat transportasi Deddy Herlambang meminta Pemprov DKI melakukan audit keselamatan seluruh pelabuhan penyeberangan dan ramp check terhadap kapal yang akan digunakan.
Kapal tradisional yang sudah tidak memenuhi standar kelaikan, menurut Deddy, sebaiknya dipensiunkan dan diganti dengan armada baru.
Ia juga menilai Pelabuhan Muara Angke maupun Marina Ancol belum sepenuhnya siap jika terjadi peningkatan permintaan penyeberangan.
Artinya, semakin terintegrasi sistemnya, semakin besar pula tuntutan terhadap kapasitas dan keselamatannya.
Dari sisi regulasi, Pemprov DKI masih menyiapkan skema kelembagaan dan payung hukum, termasuk pengaturan tarif dan subsidi, bentuk penugasan, perikatan serta masa transisi pengelolaan dari Dishub kepada Transjakarta.
Integrasi tarif juga menjadi salah satu gagasan yang dinilai dapat membuat perjalanan menuju Kepulauan Seribu lebih menarik dan terjangkau.
Jika seluruh rencana itu berhasil diwujudkan, perubahan yang terjadi bukan sekadar pergantian operator kapal.
Jakarta sedang mencoba membangun satu rantai perjalanan yang menghubungkan rumah, angkutan pengumpan, Transjakarta, pelabuhan, hingga pulau tujuan.
Dari sinilah makna “Transjakarta Laut” menjadi lebih besar.
Pada 2016, Transjakarta mengantar penumpang menuju laut. Pada 2027, Transjakarta disiapkan ikut berlayar.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!