Konser Andrea Bocelli Jadi Penggerak Pariwisata, Target Dampak Ekonomi Rp792 Miliar
Kamis, 20 Agustus 2026 | 16:53
Penulis: Arif S

Kehadiran tenor asal Italia Andrea Bocelli di Indonesia bukan hanya menghadirkan pertunjukan musik kelas dunia. Kementerian Pariwisata menargetkan rangkaian konser “Romanza 30th Anniversary World Tour” di Candi Borobudur, Magelang, dan Jakarta mampu menciptakan dampak ekonomi hingga **44 juta dolar AS atau sekitar Rp792 miliar.
Konser itu akan digelar di kawasan Candi Borobudur pada 31 Oktober 2026, kemudian berlanjut di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran pada 3 November 2026.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan konser Bocelli menjadi salah satu contoh bagaimana event internasional dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan sektor pariwisata sekaligus ekonomi daerah.
BACA JUGA
Konser BTS di Jakarta Jadi Momentum Dongkrak Wisatawan Mancanegara
Konser Musik dan Olah Raga Jadi Senjata Baru Dongkrak Pariwisata Indonesia
Pesta Rakyat HUT ke-81 RI: Jakarta Disulap Jadi Arena Hiburan dari Pagi hingga Malam
"Menurut kami, penyelenggaraan event berskala internasional memiliki nilai strategis bagi sektor pariwisata. Selain memperkuat citra dan brand destinasi, event juga menjadi demand generator yang menggerakkan berbagai aktivitas ekonomi di daerah penyelenggaraan," kata Widiyanti saat konferensi pers di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Ribuan Penonton Diproyeksikan Hadir
Kementerian Pariwisata memperkirakan konser Andrea Bocelli akan menarik sekitar 7.000 penonton di Borobudur dan 9.000 penonton di Jakarta.
Namun, dampak ekonominya tidak hanya dihitung dari penjualan tiket. Pergerakan wisatawan selama rangkaian konser diproyeksikan menggerakkan berbagai sektor, mulai dari hotel, transportasi, kuliner, hingga usaha pendukung produksi pertunjukan.
Menurut Widiyanti, belanja penonton juga akan mengalir kepada vendor, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, pekerja seni, serta komunitas yang terlibat dalam penyelenggaraan event.
Konsep tersebut menjadikan konser bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah **demand generator** yang dapat menciptakan aktivitas ekonomi di sekitar lokasi acara.
Wisman Didorong Jelajahi Yogyakarta dan Jawa Tengah
Kementerian Pariwisata menyiapkan sejumlah strategi agar penonton, terutama wisatawan mancanegara, tidak hanya datang untuk konser lalu langsung meninggalkan Indonesia.
Salah satu dukungannya adalah memfasilitasi pengurusan visa bagi para seniman melalui koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait. Kemenpar juga memberikan kemudahan perizinan masuk untuk kebutuhan logistik pertunjukan.
Selain itu, Kemenpar bekerja sama dengan Garuda Indonesia melalui program Free Add-on Tickets bagi wisatawan mancanegara sesuai ketentuan yang berlaku.
Melalui program tersebut, wisatawan asing yang menggunakan Garuda Indonesia dengan tujuan utama Jakarta atau Bali bisa mendapatkan penerbangan domestik pulang-pergi menuju Yogyakarta.
Langkah ini diharapkan membuka peluang bagi penonton konser untuk memperluas perjalanan ke destinasi lain di sekitar Borobudur dan Jawa Tengah.
Kemenpar bersama agen perjalanan dan operator tur juga menyiapkan paket wisata yang dapat dipilih wisatawan selama berada di kawasan Borobudur.
Strateginya sederhana: konser menjadi pemicu kedatangan, sementara destinasi wisata di sekitarnya menjadi alasan untuk memperpanjang masa tinggal.
Borobudur dan Jakarta Punya Peran Berbeda
Pemilihan Borobudur dan Jakarta sebagai dua lokasi konser juga memiliki makna tersendiri.
Borobudur merepresentasikan kekayaan heritage dan budaya Indonesia, sementara Jakarta menunjukkan sisi modern sebagai kota besar yang telah terbiasa menjadi tuan rumah berbagai pertunjukan internasional.
Widiyanti melihat kombinasi tersebut sebagai kesempatan untuk memperkenalkan wajah Indonesia yang beragam kepada penonton internasional.
"Indonesia memiliki kekayaan pengalaman yang sangat beragam. Kita memiliki heritage destination yang kuat, sekaligus kota-kota modern yang mampu menjadi tuan rumah bagi berbagai world-class events," katanya.
Founder Shoemaker Studios Prajna Murdaya mengatakan Borobudur dipilih karena nilai budaya dan sejarahnya dinilai memiliki keselarasan dengan karakter musik klasik Bocelli.
Konser di Borobudur juga akan dilengkapi Kampung Budaya, menghadirkan seni tradisional, kuliner, serta berbagai potensi pariwisata Magelang dan Jawa Tengah.
Pemegang tiket konser bahkan akan mendapatkan akses untuk mengunjungi Candi Borobudur pada hari penyelenggaraan.
Indonesia Jadi Satu-satunya Negara Asia dalam Tur Bocelli
Rangkaian konser itu memiliki nilai lebih bagi posisi Indonesia di peta pariwisata internasional. Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia yang masuk dalam rangkaian perayaan 30 tahun album “Romanza” Andrea Bocelli.
Bagi Kemenpar, kesempatan tersebut dapat dimanfaatkan untuk memadukan kekuatan industri hiburan global dengan promosi destinasi wisata Indonesia.
Strategi serupa juga telah dijalankan melalui sejumlah event yang mendapat dukungan kementerian. Hingga Juli 2026, tercatat 105 event yang didukung Kemenpar telah berlangsung.
Sejumlah event yang telah dikaji dampaknya mencatat lebih dari 6,47 juta pengunjung, melibatkan sekitar 11.000 UMKM dan 184.000 pekerja seni serta komunitas. Perputaran uang dari berbagai kegiatan tersebut diperkirakan mencapai Rp1 triliun.
Pada 2026, Kementerian Pariwisata menargetkan dukungan terhadap 206 event melalui program Event by Indonesia. Program tersebut mencakup event daerah, nasional, internasional, hingga kegiatan MICE.
Dengan target dampak ekonomi sekitar Rp792 miliar, konser Andrea Bocelli menjadi salah satu event yang diharapkan mampu memperlihatkan bagaimana pertunjukan kelas dunia dapat membawa manfaat lebih luas bagi destinasi dan masyarakat.
Bagi wisatawan, konser ini menawarkan lebih dari sekadar kesempatan mendengarkan suara salah satu tenor ternama dunia. Ada peluang untuk menikmati Borobudur, menjelajahi Magelang dan Jawa Tengah, serta merasakan perpaduan antara musik internasional dan kekayaan budaya Indonesia.***











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!