ID EN

Kampung Adat Ende Jadi Pilihan Pascakebakaran Sade, Kunjungan Wisatawan Meningkat

Sabtu, 5 September 2026 | 17:30

Penulis: Arif S

Kampung Adat Ende
Kampung Adat Ende di Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. . Foto: Antara/Abdul Aziz

Kampung Adat Ende di Kecamatan Pujut kini menjadi salah satu alternatif tujuan bagi wisatawan pasca kebakaran Kampung Adat Sade, Lombok Tengah. Di Kampung Adat Ende, wisatawan bisa mengenal lebih dekat kehidupan dan tradisi masyarakat Sasak.

Lokasinya Kampung Adat Ende mudah dijangkau dan hanya berjarak sekitar 2,3 kilometer dari Kampung Adat Sade. Pasca kebakaran di Sade, sejumlah pelancong mengalihkan perjalanan mereka ke Kampung Adat Sade.

Pemandu lokal, Daigo, mengatakan perubahan rute ikut mendorong peningkatan jumlah kunjungan ke Kampung Adat Ende.

"Kenaikan ini sebagian dipicu oleh berpindahnya rute kunjungan sejumlah pelancong setelah terjadi kebakaran di Desa Adat Sade," ujarnya.

Namun, meningkatnya kunjungan bukan semata-mata karena perubahan rute wisata. Sebelum kebakaran melanda Sade, wisatawan, termasuk pelancong asing, sudah rutin datang ke Kampung Ende.

Daigo menyebut jumlah pengunjung terus bertambah dari waktu ke waktu. Pada hari biasa, rata-rata sekitar 400 wisatawan datang, sedangkan pada akhir pekan jumlahnya dapat mencapai 700 orang.

"Alhamdulillah, setiap hari semakin banyak pengunjung datang ke Kampung Sasak Ende. Bahkan sebelum ada musibah kebakaran di kampung sebelah, wisatawan asing sudah sering berkunjung ke sini," ucap Daigo.

Menyusuri Jejak Budaya Sasak

Kampung Adat Ende bukan destinasi budaya baru. Kawasan ini mulai dibentuk pada 1998 dengan hanya lima rumah adat tradisional.

Setelah diresmikan sebagai objek wisata pada 2001, Kampung Ende berkembang menjadi permukiman budaya yang kini dihuni sekitar 35 kepala keluarga.

Bagi wisatawan, daya tarik Ende terletak pada pengalaman melihat kehidupan masyarakat Sasak yang masih mempertahankan tradisi. 

Arsitektur rumah adat, suasana kampung, serta keramahan warga menjadi bagian dari pengalaman tak terlupakan.

Keaslian menjadi salah satu alasan wisatawan tetap menjadikan Kampung Adat Ende sebagai tujuan ketika menjelajahi kawasan Lombok Tengah.

Wisatawan Datang, Ekonomi Warga Bergerak

Meningkatnya kunjungan wisatawan tidak hanya terlihat dari aktivitas di kawasan kampung. Pergerakan wisatawan membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat dan pelaku usaha mikro yang menggantungkan pendapatan dari aktivitas pariwisata.

Ina Ganjah, seorang pedagang cenderamata, merasakan langsung dampaknya. Perempuan asal Jawa yang telah menetap di Kampung Ende selama 12 tahun itu mengaku pendapatannya meningkat terutama ketika musim liburan dan akhir pekan.

Pada hari biasa, omzetnya Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per hari. Ketika jumlah wisatawan meningkat, pendapatannya dapat mencapai Rp600 ribu hingga Rp700 ribu sehari.

Belajar dari Kebakaran Kampung Adat Sade

Di balik meningkatnya kunjungan, pengelola Kampung Adat Ende mulai memperkuat aspek keselamatan. Kebakaran di Kampung Adat Sade pada 22 Agustus 2026 menjadi pengingat, destinasi wisata berbasis rumah tradisional memiliki tantangan tersendiri.

Rumah adat Sasak dengan atap ilalang dan rangka kayu memiliki kerentanan tinggi terhadap api.

Karena itu, pengelola Kampung Adat Ende menyiagakan alat pemadam api ringan (APAR) yang diperoleh melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR. 

Langkah itu menjadi bagian dari antisipasi untuk menghadapi potensi kebakaran sekaligus menjaga keamanan wisatawan dan warga.***



Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!