ID EN

Erupsi Gunung Anak Krakatau Berdampak ke 33 Penerbangan di Bandara Soetta

Minggu, 6 September 2026 | 12:27

Penulis: Rojes Saragih

Petugas menutup mesin pesawat di apron Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta untuk mencegah masuknya abu vulkanik Gunung Anak Krakatau
Petugas menutup mesin pesawat di apron Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta untuk mencegah masuknya abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, Minggu (6/9/2026). Foto: Antara/Muhammad Iqbal

Jakarta - Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda berdampak terhadap 33 penerbangan di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten. Informasi ini disampaikan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) berdasarkan data monitoring per 5 September 2026 pukul 22.00 WIB.

Kondisi tersebut membuat calon penumpang, termasuk wisatawan, perlu memantau informasi terbaru dari maskapai karena jadwal penerbangan dapat berubah mengikuti perkembangan situasi.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa mengatakan, dari 33 penerbangan terdampak tersebut, pada penerbangan internasional terdapat 16 pembatalan, tujuh penundaan, dan lima penjadwalan kembali.

33 Penerbangan Terdampak

Menurut Ditjen Perhubungan Udara, rute internasional yang terdampak mencakup penerbangan menuju dan dari Singapura (SIN), Hong Kong (HKG), Sydney (SYD), Seoul/Incheon (ICN), Doha (DOH), Amsterdam (AMS), dan Kuala Lumpur (KUL).

Sementara untuk penerbangan domestik, Ditjen Perhubungan Udara mencatat empat pembatalan dan satu penerbangan dialihkan. Rute yang terdampak mencakup penerbangan dari dan ke Lampung (TKG), menuju Denpasar (DPS), serta menuju Surabaya (SUB).

Soetta Ditutup Sementara

Lukman menjelaskan, berdasarkan NOTAM Nomor A3341/26, Bandara Internasional Soekarno-Hatta ditutup sementara pada Minggu (6/9/2026) pukul 01.30–05.30 WIB karena adanya indikasi sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Menurut Lukman, keputusan itu merupakan tindak lanjut paper test yang dilakukan pada pukul 00.35–01.05 WIB dan menunjukkan hasil positif adanya indikasi sebaran abu vulkanik di Bandara Soekarno-Hatta.

Berpotensi Timbulkan Dampak Berantai

Ditjen Perhubungan Udara memberikan perhatian khusus terhadap pemulihan jadwal penerbangan pada 6 September 2026 karena gangguan operasional berpotensi menimbulkan dampak berantai (cascading impact).

Menurut Ditjen Perhubungan Udara, dampak tersebut dapat memengaruhi rotasi pesawat, ketersediaan armada, jadwal penerbangan berikutnya, hingga kapasitas terminal.

Lukman menegaskan keselamatan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan operasional, termasuk ketika maskapai melakukan penyesuaian jadwal penerbangan.

Wisatawan Diminta Pantau Jadwal

Ditjen Perhubungan Udara mengimbau masyarakat dan calon penumpang yang akan bepergian melalui Bandara Soekarno-Hatta untuk memantau informasi terbaru dari maskapai mengenai status penerbangannya.

Calon penumpang juga diminta mengatur waktu perjalanan dengan mempertimbangkan kemungkinan perubahan jadwal akibat kondisi erupsi Gunung Anak Krakatau.

InJourney Tangani Penumpang Terdampak

Sementara itu, InJourney Airports menyatakan telah mengaktifkan prosedur Service Recovery Activation (SRA) di Bandara Soekarno-Hatta untuk menangani penumpang yang terdampak gangguan penerbangan.

Corporate Secretary Group Head InJourney Airports Arie Ahsanurrohim, dikutip Antara, mengatakan layanan tersebut mencakup penyediaan makanan dan minuman ringan, bus untuk mengantar penumpang terdampak menuju hotel melalui koordinasi dengan maskapai, serta penyiapan area khusus di terminal.

Menurut InJourney Airports, SRA juga akan dijalankan di bandara lain bagi penumpang yang terdampak efek berantai dari gangguan operasional Soetta.

BMKG Pantau Sebaran Abu Vulkanik

BMKG mengintensifkan pemantauan selama 24 jam terhadap perkembangan erupsi Gunung Anak Krakatau dan dampaknya terhadap atmosfer serta penerbangan.

Berdasarkan analisis citra satelit pada Minggu (6/9/2026) pukul 08.00 WIB, BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik yang melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.

BMKG juga mencatat abu vulkanik bergerak hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah timur dan hingga 50.000 kaki ke arah barat.

Kondisi operasional penerbangan dapat berubah mengikuti perkembangan sebaran abu vulkanik. Karena itu, wisatawan disarankan menjadikan informasi terbaru dari maskapai dan otoritas penerbangan sebagai acuan sebelum menuju bandara.

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!