Adidas Minta Maaf Atas Iklan Sepatu dengan Model Mantan Tentara Israel
Selasa, 8 September 2026 | 14:30
Penulis: Arif S

Adidas meminta maaf setelah iklan produk sepatu khusus penyandang disabilitas memicu kontroversi. Perusahaan pakaian olahraga asal Jerman mendapat kritik karena kampanye lokal di Israel menampilkan Shalev Biton, seorang mantan tentara Israel (IDF), sebagai model.
Biton kehilangan kaki kirinya setelah mengalami cedera ketika bertugas di IDF pada 2021. Ia kemudian tampil dalam materi promosi Adidas's Single Shoe, layanan khusus bagi konsumen dengan perbedaan anggota tubuh yang memungkinkan mereka membeli hanya satu sepatu sesuai kebutuhan.
Kontroversi muncul setelah aktivis pro-Palestina mengkritik keputusan Adidas menggunakan mantan tentara Israel dalam kampanye itu.
BACA JUGA
Nonton MotoGP Mandalika Sambil Camping di Pantai, Cara Berbeda Menikmati Balapan di Lombok
Timnas Boccia Indonesia Ukir Sejarah di Seoul, Modal Berharga Menuju Paralimpiade 2028
Juara Dunia MotoGP 2026 Ditentukan Konsistensi, Gigi Dall'Igna Ingatkan Marc Marquez?
Mereka menilai pilihan model itu menjadi persoalan sensitif, terutama dengan latar konflik Israel-Palestina dan banyaknya warga Palestina yang juga kehilangan anggota tubuh akibat agresi Israel.
Adidas kemudian menyampaikan permintaan maaf atas polemik itu.
"Kami menyadari bahwa visual yang digunakan tim lokal dalam kegiatan baru-baru ini telah menimbulkan kekhawatiran dan mendapat reaksi keras," demikian pernyataan Adidas, seperti dilaporkan Anadolu Agency.
"Kami tidak bermaksud menyinggung siapa pun dan meminta maaf kepada semua pihak yang terdampak," lanjut pernyataan tersebut.
]Adidas Tegaskan Materi Promosi Bukan Bagian Kampanye Global
Adidas menjelaskan materi promosi itu bukan bagian dari kampanye global perusahaan. Iklan itu merupakan inisiatif lokal yang dibuat tim Adidas di Israel.
Perusahaan juga menegaskan tujuan program Single Shoe adalah mendorong inklusi dalam olahraga dan kehidupan sehari-hari.
Layanan itu dirancang agar orang dengan perbedaan anggota tubuh tidak harus membeli sepasang sepatu ketika hanya membutuhkan satu.
Program Single Shoe diperkenalkan di 23 negara Eropa sejak Januari. Konsumen dapat membeli sepatu individual dengan harga 50 persen dari harga sepasang sepatu di toko maupun outlet Adidas.
Seiring perkembangannya, layanan diperluas ke sejumlah wilayah di Eropa, Asia, dan Timur Tengah. Program itu mencakup Palestina, Uni Emirat Arab, Lebanon, Arab Saudi, Kuwait, Qatar, dan Mesir.
Dalam kampanye di Israel, Biton merupakan satu dari 11 atlet penyandang disabilitas yang ditampilkan dalam poster di toko Adidas.
Namun, latar belakang Biton sebagai mantan anggota IDF mendapat sorotan berbeda. Bagi para pengkritik, persoalan bukan semata-mata mengenai layanan sepatu untuk penyandang disabilitas, melainkan keputusan menghadirkan figur dengan latar belakang militer Israel di tengah konflik yang masih berlangsung.
Adidas Janji Terus Belajar
Adidas mengatakan kontroversi itu menjadi bahan evaluasi bagi perusahaan. Mereka akan memperhatikan respons publik untuk memastikan aktivitas berikutnya tetap sejalan dengan prinsip inklusi.
Terkait hal ini Adidas akan "terus mendengarkan, belajar dan bekerja" untuk memastikan tindakan yang mencerminkan nilai-nilai inklusif.
Kontroversi terbaru itu bukan pertama kalinya Adidas menghadapi tekanan terkait isu Israel-Palestina.
Pada 2012, perusahaan pernah menghadapi seruan boikot karena menjadi sponsor Maraton Yerusalem. Salah satu persoalan yang disoroti adalah rute perlombaan melewati wilayah Yerusalem Timur.
Enam tahun kemudian, pada 2018, Adidas kembali mendapat tekanan. Lebih dari 130 klub sepak bola dan asosiasi olahraga Palestina mendesak perusahaan mengakhiri kerja sama sponsorship dengan Asosiasi Sepak Bola Israel.***











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!