Bogor, 19/08/2026, ITSMe - Persib Bandung menutup Dewata Challenge Series 2026 dengan trofi. Namun, gelar juara turnamen pramusim di Bali bukanlah tujuan akhir.
Justru dari dua pertandingan tersebut, Persib mendapatkan gambaran penting mengenai sejauh mana mereka siap menghadapi tantangan yang lebih besar: play-off AFC Champions League Two (ACL 2) dan Super League 2026/2027.
Persib menyapu bersih dua laga di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar. Setelah mengalahkan Sabah FC 3-0, Maung Bandung menundukkan Bali United 3-2 secara dramatis, Selasa (18/8/2026). Hasil itu sekaligus memperlihatkan karakter tim yang mampu bangkit ketika berada dalam tekanan.
BACA JUGA
Wajib Menang Selisih 4 Gol, Bek Persib Optimistis Lolos ke Perempat Final ACL2
Semifinal Piala Presiden 2026: Igor Tolic Tegaskan Persib Incar Kemenangan Kontra Persija
Butuh Menang 4 Gol, Bojan Hodak Percaya Persib Mampu Ciptakan Keajaiban di GBLA
Melawan Bali United, Persib dua kali tertinggal. Gol Brandon Wilson membuat tuan rumah unggul 1-0 sebelum Marc Klok menyamakan kedudukan melalui penalti. Joao Ferrari kemudian membawa Bali United kembali memimpin 2-1.
Persib baru menunjukkan respons terbaik pada fase akhir pertandingan. Balsa Sekulic menyamakan skor sebelum Gabriel Mutombo mencetak gol kemenangan pada masa tambahan waktu.
Bagi Mutombo, gol tersebut punya arti lebih dari sekadar menentukan kemenangan. Bek asal Prancis itu didatangkan pada Juni untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Federico Barba, salah satu pemain penting dalam keberhasilan Persib menjuarai Super League musim lalu.
Pergantian itu menjadi bagian dari perubahan besar Persib. Maung Bandung tidak hanya kehilangan Barba, tetapi juga memasuki era baru bersama Igor Tolic setelah Bojan Hodak tidak lagi menjadi pelatih. Di sisi lain, sejumlah pemain baru harus beradaptasi dengan sistem permainan yang berbeda.
Persoalan chemistry juga belum sepenuhnya selesai. Marc Klok, misalnya, baru bergabung dengan tim setelah membela Timnas Indonesia di Piala AFF 2026. Ia mengakui dua pertandingan di Bali penting untuk mengenal kembali pemain baru sekaligus memahami pendekatan Tolic.
Karena itu, Dewata Challenge sebenarnya lebih tepat dilihat sebagai laboratorium terakhir sebelum kompetisi resmi. Bahkan sebelum menghadapi Sabah, Tolic menyebut Persib masih pincang dan akan menggunakan pertandingan untuk mencoba sejumlah opsi.
Kini waktu untuk bereksperimen semakin sempit.
Persib akan menghadapi Manila Digger pada play-off ACL 2 di Bandung, 31 Agustus. Pertandingan ini menjadi pintu menuju fase grup. Jika menang, Persib akan bergabung dengan FC Seoul, Melbourne Victory, dan The Cong-Viettel di Grup E.
Tantangannya tidak ringan. Persib bukan hanya harus menghadapi lawan dengan karakter berbeda, tetapi juga kemungkinan perjalanan panjang ke Korea Selatan, Australia, dan Vietnam. Semua itu berlangsung bersamaan dengan perjuangan mempertahankan performa di Super League 2026/2027.
Faktor kedalaman skuad akhirnya menjadi sangat penting. Mutombo harus membuktikan bahwa dirinya mampu menjaga lini belakang setelah kepergian Barba. Pemain baru lainnya juga dituntut cepat menyatu, sementara pemain lama harus mampu beradaptasi dengan ide Tolic.
Ada satu persoalan lain yang membuat play-off semakin berat. Persib harus menjalani laga kandang melawan Manila Digger tanpa dukungan langsung Bobotoh akibat sanksi AFC.
Maka, pertanyaan apakah Persib sudah siap untuk ACL 2 belum bisa dijawab hanya dengan melihat trofi Dewata Challenge.
Jawabannya mungkin mulai terlihat: Persib memiliki mentalitas, kualitas individu, serta kemampuan melakukan comeback. Namun, konsistensi, chemistry, kedalaman skuad, dan kematangan taktik masih harus dibuktikan.
Trofi di Bali adalah modal bagus. Tetapi ujian sesungguhnya bagi Persib dimulai pada 31 Agustus. Jika mampu melewati Manila Digger, barulah Maung Bandung akan mengetahui apakah perubahan besar yang dilakukan sepanjang pramusim cukup untuk membawa mereka bersaing di level Asia.
Informasi dan dinamika terbaru Persib Bandung ini menjadi pembahasan ITSMe dalam podcast bersama pengamat sepak bola Ronny Pangemanan dan Sapto Haryo Rajasa. Podcast yang digelar di Studio ITSMe, Sentul, Bogor, tersebut dipandu oleh Gilang Repasty dan Pudila.










