IndonesiaTravelSport.com - Persija Jakarta mulai menunjukkan bentuk permainan yang diinginkan Shin Tae-yong setelah melewati dua pekan training camp (TC) di Thailand. Namun, perkembangan tersebut sekaligus menghadirkan pertanyaan lebih besar: apakah fondasi yang dibangun Shin sudah cukup untuk membawa Persija menjadi juara Super League 2026/2027?
Pertanyaan itu menjadi salah satu topik dalam podcast mingguan ITSMe bersama pengamat sepak bola Yusuf Kurniawan atau Bung Yuke dan Rais Adnan. Podcast yang berlangsung di Studio ITSMe, Sentul, Bogor, Senin (24/8/2026), dipandu Gilang Respaty dan Pudila.
Dalam pembahasan ini, perhatian diarahkan pada perubahan Persija sejak ditangani Shin. Pelatih asal Korea Selatan itu tidak hanya membangun skuad, tetapi juga berusaha menciptakan identitas permainan dengan tuntutan fisik, intensitas, pressing, disiplin posisi, dan kerja kolektif.
BACA JUGA
Persija Belum Pikirkan Persib, Mauricio Souza Tegaskan Fokus Penuh ke Persijap Jepara
Persija Launching Skuad dan Jersey Baru, Brisbane Roar Jadi Lawan Uji Coba
TC Persija di Thailand: Shin Tae-yong Fokus Tingkatkan Fisik dan Taktik
Prosesnya terlihat selama TC Thailand pada 10-23 Agustus 2026. Pekan pertama difokuskan pada peningkatan fisik melalui latihan dua kali sehari, sebelum program beralih ke pematangan taktik di Bangkok.
Hasilnya mulai terlihat dalam dua laga uji coba. Persija menang 2-1 atas Police Tero pada 19 Agustus dan kembali menang 2-1 atas Chiangrai United pada 22 Agustus. Namun, bagi Shin, skor bukan ukuran utama. Ia lebih menilai kemampuan pemain menerjemahkan taktik, menjaga tempo, distribusi bola, chemistry, serta organisasi antarlini.
Shin bahkan menilai perkembangan permainan Persija telah mencapai sekitar 70-80 persen. Meski demikian, ia masih menekankan pentingnya stamina untuk bermain selama 90 menit, jarak antarlini, komposisi pemain, dan konsistensi menjalankan gaya sepak bola yang diinginkan.
Rizky Ridho menjadi salah satu contoh menarik. Golnya ke gawang Chiangrai United memperlihatkan respons positif seorang pemain yang juga memiliki chemistry kuat dengan rekan-rekannya di Persija. Faktor kenyamanan, pemahaman antarpemain, dan kepemimpinan di lini belakang menjadi modal penting bagi Ridho untuk tampil lebih percaya diri.
Di sisi lain, tantangan Shin bukan hanya membangun pemain lokal. Persija juga mendatangkan Alexander Jeremejeff untuk memperkuat lini depan. Striker Swedia tersebut menjadi kepingan baru yang harus segera menyatu dengan sistem permainan Shin.
Kehadiran pemain berkualitas dan skuad yang semakin kompetitif memang memperbesar ekspektasi. Namun, pengalaman menunjukkan bahwa skuad mahal tidak otomatis menghasilkan gelar. Shin tetap harus memastikan seluruh pemain, termasuk para pemain asing, mampu mengikuti tuntutan permainan yang mengutamakan kerja kolektif.
Karena itu, laga menghadapi Brisbane Roar di Jakarta International Stadium pada Sabtu (29/8) menjadi ujian penting. Pertandingan tersebut dapat memperlihatkan sejauh mana fondasi fisik dan taktik dari Thailand sudah berubah menjadi permainan yang utuh sebelum kompetisi resmi dimulai.
Setelah Brisbane Roar, Persija akan menghadapi ujian sebenarnya di Super League 2026/2027. Dengan target besar dan jadwal awal yang berat, Shin Tae-yong harus membuktikan bahwa perubahan yang mulai terlihat bukan sekadar efek pramusim.
Persija mungkin sudah mulai bermain dengan wajah yang diinginkan Shin Tae-yong. Namun, untuk menjadi juara, chemistry, stamina, taktik, kedalaman skuad, dan konsistensi harus bertahan ketika tekanan kompetisi sesungguhnya dimulai.










