Setiap kota memiliki cara sendiri untuk menyimpan masa lalu.
Di Semarang, cerita itu bisa ditemukan dalam bangunan tua, benda-benda lawas, hingga jalur kereta yang masih membawa jejak sejarah.
Melalui ITSMe Travel Series bersama Raisha, perjalanan kali ini mengajak kita melihat Semarang dan Ambarawa dari sisi yang berbeda: bukan sekadar tempat untuk dikunjungi, tetapi ruang untuk menemukan kembali cerita yang ditinggalkan waktu.
BACA JUGA
Semarang Mountain Race, Cara Jateng Pacu Sports Tourism
Animal Show Lebih Lama, Semarang Zoo Bidik Lonjakan Wisatawan Selama Lebaran
Mendaki Gunung Luhur Bogor, Menikmati Hortensia Mekar hingga Puncak 1.750 Mdpl
Jejak itu dimulai dari Rumah Akar, salah satu sudut unik di kawasan Kota Lama Semarang.
Sebuah pohon besar tumbuh di dalam bangunan tua, sementara akar-akarnya menjalar dan membelit dinding. Pemandangan inilah yang membuat Rumah Akar menjadi salah satu spot yang menarik perhatian pengunjung.
Namun, di balik keunikannya, bangunan ini menyimpan cerita yang lebih panjang. Rumah Akar dikaitkan dengan bekas kantor De Locomotief, surat kabar berbahasa Belanda yang memiliki sejarah penting dalam perkembangan pers di Semarang, Jawa Tengah.
Kini, perpaduan bangunan tua dan akar pohon menjadi daya tarik tersendiri.
Rumah Akar layak dikunjungi bukan hanya karena bentuknya yang unik, tetapi karena tempat ini memperlihatkan bagaimana alam dan waktu dapat mengubah sebuah bangunan tanpa menghapus jejak masa lalunya.
Dari bangunan tua, perjalanan beralih pada benda-benda yang juga berhasil bertahan melewati waktu.
Di Siwil Art, barang-barang lawas seperti botol kaca, piring enamel, koper, uang kuno dan berbagai benda antik lainnya ditata secara artistik. Susunan itu menjadikannya bukan sekadar tempat menyimpan barang lama, tetapi ruang visual yang menarik untuk dinikmati dan diabadikan.
Lebih dari sekadar spot foto, Siwil Art membuat benda-benda yang dahulu akrab dalam kehidupan sehari-hari kembali memiliki cerita.
Pengunjung dapat melihat bagaimana barang yang mungkin sudah dianggap usang justru menjadi bagian dari pengalaman menikmati masa lalu.
Rasa penasaran terhadap benda-benda itulah yang kemudian membawa perjalanan ke Pasar Antik Kota Lama.
Di sini, masa lalu tidak hanya dipajang, tetapi masih dicari, ditawar dan berpindah tangan.
Kamera analog, mesin tik, radio, piringan hitam, telepon lama, uang hingga perangko kuno dapat ditemukan di antara lapak para pedagang.
Bagi kolektor, daya tariknya terletak pada kejutan. Kita tidak pernah tahu apa yang tersembunyi di antara tumpukan barang.
Bahkan perjalanan kali ini memiliki misi kecil: mencari sebuah komik lama.
Perburuan ini sekaligus mempertemukan kita dengan Elvira, pedagang sekaligus warga asli Semarang yang telah lama berkecimpung dalam dunia barang antik.
Dari sana terlihat bahwa benda lama bukan sekadar barang. Ia dapat menyimpan kenangan dan nilai yang membuatnya terus dicari.
Setelah menemukan masa lalu melalui bangunan dan benda, perjalanan kemudian bergerak menuju Ambarawa, tempat sejarah hadir dalam bentuk yang berbeda: kereta yang masih melintasi jalur bersejarah.
Stasiun Ambarawa, yang dahulu dikenal sebagai Stasiun Willem I, diresmikan pada 21 Mei 1873 dan kini menjadi bagian dari Museum Kereta Api Ambarawa.
Salah satu keistimewaannya adalah jalur rel bergerigi, teknologi yang membantu kereta melewati lintasan menanjak.
Karena itu, menaiki kereta wisata di Ambarawa bukan sekadar perjalanan, tetapi kesempatan untuk merasakan langsung bagian dari sejarah perkeretaapian.
Perjalanan ini juga membawa kita mendekati jejak Gadis Kretek, salah satunya melalui Stasiun Tuntang yang menjadi lokasi pengambilan gambar serial tersebut.
Stasiun yang telah berdiri sejak abad ke-19 itu memberi lapisan cerita baru: tempat bersejarah yang dahulu menjadi bagian dari jaringan transportasi dan perdagangan, kini kembali dikenal melalui sebuah cerita yang hadir di layar.
Dari akar yang tumbuh di bangunan tua, benda-benda yang kembali menemukan makna, barang antik yang masih diburu, hingga kereta yang bergerak di atas rel bersejarah, empat destinasi ini memperlihatkan bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar pergi.
Ia hanya berganti bentuk.
Dan menunggu untuk ditemukan kembali.










