ID EN

FIFA ASEAN Cup 2026: Bukan Sekadar Menang, Herdman Sedang Mengubah Sesuatu

Sabtu, 26 September 2026 | 21:46

Penulis: Rojes Saragih

Timnas Indonesia membuka FIFA ASEAN Cup 2026 dengan kemenangan 2-0 atas Singapura di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (25/9/2026). Hasil sempurna dari sisi angka, tetapi permainan Indonesia masih menyisakan sejumlah pertanyaan.

Apakah Indonesia belum tampil maksimal, atau John Herdman memang memilih pendekatan yang lebih pragmatis?

Pertanyaan ini menjadi pembahasan dalam podcast ITSMe di Studio Sentul, Bogor, Sabtu (26/9/2026), yang menghadirkan Pengamat Sepak Bola Yusuf Kurniawan alias Bung Yuke dan Erwin Fitriansyah, dipandu host Yatna dan Pudila.

Dari perspektif pecinta sepak bola, rasa belum puas cukup beralasan. Indonesia memiliki pemain dengan kualitas dan pengalaman tinggi, tetapi permainan melawan Singapura belum sepenuhnya mencerminkan kualitas tersebut.

Namun, bisa jadi memang bukan itu yang dikejar Herdman.

Belajar dari Piala AFF


Sebelum FIFA ASEAN Cup dimulai, Herdman mengatakan dirinya membawa pelajaran dari Piala AFF 2026, terutama soal rotasi pemain.

Menurutnya, pada AFF ia tidak bisa melakukan rotasi sebanyak yang diinginkan. Kini, dengan kedalaman skuad yang lebih besar, Herdman memiliki lebih banyak pilihan.

Laga melawan Singapura memperlihatkan indikasi tersebut.

Thom Haye tidak menjadi starter dan baru masuk pada menit ke-64. Sementara Ragnar Oratmangoen dan Mitchell Baker tetap dipercaya sejak awal.

Herdman juga menurunkan starting XI yang seluruhnya merupakan pemain keturunan. Rayhan Hannan dan Rizky Ridho baru dimainkan pada babak kedua.

Ini menunjukkan bahwa Herdman mulai menggunakan kedalaman skuad sebagai bagian dari strategi, bukan sekadar menyediakan pemain cadangan.

Kemenangan Lebih Penting?


Bung Yuke melihat pertandingan dari perspektif turnamen. Menurutnya, kemenangan tetap menjadi hal penting. Permainan yang belum sempurna masih bisa diperbaiki pada pertandingan berikutnya.

Indonesia memang mampu mengontrol pertandingan dan menciptakan peluang. Namun konteks gol kedua juga penting.

Singapura kehilangan Safuwan Baharudin setelah mendapat kartu merah melalui tinjauan VAR. Empat menit kemudian Indonesia memperoleh penalti yang berhasil dikonversi Ole Romeny pada menit ke-74.

Artinya, kemenangan 2-0 tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan dominasi Indonesia dalam situasi sebelas lawan sebelas sepanjang pertandingan.

Herdman Mulai Pragmatis?


Dari sini, pendekatan Herdman menjadi menarik.

Ia tidak memaksakan seluruh pemain yang dianggap terbaik bermain sejak awal. Haye disimpan, kemudian digunakan ketika pertandingan membutuhkan perubahan.

Pendekatan tersebut juga memungkinkan Herdman mengelola energi pemain. Setelah Singapura, Indonesia masih menghadapi Malaysia pada 28 September dan Bangladesh pada 1 Oktober.

Herdman mengakui skuadnya masih membangun chemistry. Luke Vickery, misalnya, baru pertama kali bermain bersama Mitchell Baker. Karena itu, ia menilai permainan Indonesia akan semakin baik seiring bertambahnya pertandingan.

Absennya Jay Idzes Belum Menjadi Masalah


Hal lain yang menarik adalah absennya Jay Idzes.

Indonesia tetap mampu mencatat clean sheet. Namun terlalu dini menyimpulkan bahwa kehilangan Idzes tidak berpengaruh.

Singapura memang memiliki beberapa peluang, tetapi kualitas serangannya belum memberikan tekanan konstan yang benar-benar menguji pertahanan Indonesia.

Karena itu, absennya Idzes belum terlihat menjadi masalah dalam pertandingan ini, tetapi ujian sebenarnya baru akan terlihat ketika Indonesia menghadapi lawan dengan kualitas serangan yang lebih tinggi.

Membangun Tim yang Seimbang


Erwin Fitriansyah melihat pekerjaan Herdman bukan sekadar memilih Pemain Terbaik, tetapi membangun tim yang seimbang antara lini belakang, tengah dan depan.

Indonesia kini memiliki banyak pemain berkualitas. Tantangannya adalah menyatukan kualitas individu tersebut ke dalam struktur permainan yang jelas.

Tidak harus semua pemain terbaik bermain bersamaan. Tidak harus setiap kemenangan diraih dengan permainan spektakuler.

Herdman tampaknya sedang mencari sebelas pemain yang paling tepat untuk sebuah pertandingan, bukan sekadar sebelas pemain dengan nama terbesar.

Kemenangan 2-0 atas Singapura belum membuktikan Indonesia sudah menemukan formula terbaik. Namun laga ini memberikan indikasi bahwa pengalaman di AFF mulai memengaruhi pendekatan Herdman.

Pragmatis, seimbang, lalu menang.

Kini pertanyaannya adalah apakah pendekatan tersebut akan mampu menghasilkan permainan yang semakin matang pada pertandingan berikutnya.