Sumaya Ukir Sejarah, Sumbang Perak Teqball Indonesia di Asian Games 2026
Senin, 21 September 2026 | 11:23
Penulis: Rojes Saragih

Nagoya, Jepang - Medali emas memang belum menjadi milik Sumaya. Namun, atlet berusia 21 tahun itu telah mengukir sejarah dengan mempersembahkan medali perak untuk Indonesia pada debut teqball di Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Bertanding di Nagoya City Higashi Sports Center, Minggu (20/9/2026), Sumaya harus mengakui keunggulan wakil Myanmar, Wai Khin Hnin, dalam final tunggal putri yang berlangsung ketat hingga tiga set.
Sumaya merebut set pertama dengan skor 12-10. Wai Khin Hnin kemudian bangkit dan menyamakan kedudukan setelah menang 12-8.
BACA JUGA
Jersey Kontingen Indonesia untuk Asian Games 2026 Bawa Identitas Nusantara
Eugenia Diva Raih Perunggu, Indonesia Bertanding di 15 Cabor Asian Games 2026 Hari Ini
Asian Games 2026: WNI di Jepang Disiapkan Jadi Relawan Pendukung Kontingen Indonesia
Pada set penentuan, Sumaya sempat berada dalam posisi menjanjikan. Ia unggul 4-1 dan kembali memimpin 7-6. Namun, wakil Myanmar mampu membalikkan keadaan dan menutup pertandingan dengan kemenangan 12-9.
Emas pun lepas.
Namun, perak tersebut tetap menjadi pencapaian istimewa karena teqball untuk pertama kalinya dipertandingkan di Asian Games. Sumaya pun menjadi bagian dari sejarah debut cabang olahraga tersebut di pesta olahraga Asia.
Perak Sumaya dan Enam Medali Indonesia
Medali Sumaya menjadi bagian dari torehan positif Kontingen Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Pada hari pertama perebutan medali, Minggu (20/9), Indonesia mengoleksi satu medali perak dan empat medali perunggu. Perak dipersembahkan Sumaya dari teqball nomor tunggal putri, sementara empat perunggu diraih dari wushu, teqball, dan soft tenis.
Perolehan tersebut kemudian bertambah pada Senin (21/9) setelah Eugenia Diva Widodo meraih medali perunggu dari wushu nomor changquan putri.
Dengan tambahan tersebut, hingga Senin pagi (21/9), Indonesia telah mengoleksi enam medali, terdiri dari satu perak dan lima perunggu.
Tambahan medali tersebut membuat perjuangan Kontingen Indonesia di Aichi-Nagoya masih terus berlanjut. Sejumlah atlet dari berbagai cabang olahraga masih bertanding dan berpeluang menambah koleksi medali Merah Putih.
Chef de Mission (CdM) Tim Indonesia Todotua Pasaribu menyebut raihan tersebut sebagai pencapaian signifikan.
"Hari ini kita cukup surprise. Hari ini dulangan medali yang kita peroleh itu signifikan, satu perak, empat perunggu."
Todotua berharap hasil tersebut menjadi awal konsistensi Kontingen Indonesia sepanjang Asian Games 2026. Sejumlah cabang olahraga juga mulai memasuki babak perempat final dan semifinal sehingga peluang menambah medali masih terbuka.
Tetapi di balik medali yang diraih Sumaya di Nagoya, terdapat perjalanan panjang yang bermula jauh dari arena Asian Games.
Tumbuh di Keluarga Sepak Takraw
Sumaya berasal dari Pangkalan Nyirih, Kabupaten Bengkalis, Riau.
Ia tumbuh dalam keluarga yang sangat dekat dengan sepak takraw. Ayah dan ibunya merupakan atlet sepak takraw, sedangkan sang ibu pernah menjadi atlet nasional.
Tiga saudara perempuan Sumaya juga menekuni olahraga tersebut.
Tak mengherankan jika sejak kecil olahraga sudah menjadi bagian dari kehidupannya.
"Di rumah sudah diajarin dari kecil olahraga terus," kata Sumaya.
Lingkungan keluarga itulah yang membentuk dasar kemampuan olahraganya.
Namun, jalan Sumaya menuju panggung Asian Games justru tidak datang melalui sepak takraw.
Tidak Terpilih di Takraw, Menemukan Teqball
Sekitar dua tahun lalu, Sumaya tidak terpilih untuk memperkuat tim sepak takraw.
Kesempatan baru kemudian datang ketika ia mendapat tawaran mencoba teqball dalam sebuah ajang eksibisi.
Saat mengikuti pertandingan pertamanya, masa latihan Sumaya bahkan belum genap sebulan.
Hasilnya mengejutkan. Ia mampu meraih medali.
Pengalaman tersebut kemudian memantapkan langkahnya untuk menekuni teqball secara serius. Sejak beralih cabang, Sumaya menjalani latihan intensif setiap hari.
"Hidup saya untuk teqball. Setiap hari, pagi, siang, dan sore," kata Sumaya.
Pelatih tunggal putri teqball Indonesia, Benidiktus Budi Setyoko, melihat kemampuan Sumaya berkembang cepat.
Dasar sepak takraw yang dimilikinya menjadi modal penting. Kemampuan mengontrol bola dan teknik yang telah terbentuk sejak kecil membuat Sumaya lebih mudah beradaptasi dengan teqball.
Dari Ganda hingga Tunggal Putri
Pada awal perjalanannya di teqball, Sumaya tampil di nomor ganda campuran sebelum kemudian diarahkan untuk memperkuat nomor tunggal putri.
Perubahan tersebut tidak menjadi hambatan berarti.
Justru, dari berbagai pertandingan yang dijalaninya, kemampuan Sumaya terus berkembang hingga akhirnya ia mendapat kesempatan tampil di Asian Games.
Dua tahun setelah mengenal teqball, Sumaya datang ke Aichi-Nagoya sebagai salah satu andalan Indonesia di cabang olahraga yang baru dipertandingkan tersebut.
Perjalanan Berliku Menuju Final
Langkah Sumaya menuju final ternyata tidak berlangsung mulus.
Pada fase Grup B, ia mengawali pertandingan dengan kemenangan atas wakil Lebanon, Dandal Kamar, dengan skor 12-9, 12-11.
Namun, pada pertandingan berikutnya, Sumaya kalah dari Wai Khin Hnin dengan skor 10-12, 8-12.
Ia kemudian bangkit dan mengalahkan wakil Kirgizstan, Aidana Otorbaeva, melalui pertandingan tiga gim dengan skor 6-12, 12-6, 12-6.
Hasil tersebut menempatkan Sumaya di posisi kedua Grup B sehingga ia harus melewati babak repechage.
Di babak tersebut, Sumaya mengalahkan wakil Kamboja, DY Koemyean, dengan skor 12-8, 12-7 dan memastikan tempat di semifinal.
Jalan menuju final pun semakin berat.
Tertinggal di Semifinal, Sumaya Bangkit
Pada semifinal, Sumaya menghadapi wakil India, Quimcy Joaquim Dsouza.
Ia langsung kehilangan gim pertama setelah kalah 7-12.
Namun, Sumaya tidak kehilangan fokus.
Pada gim kedua, pertandingan berlangsung ketat hingga kedudukan 9-9. Sumaya kemudian merebut tiga poin beruntun dan memaksakan gim penentuan.
Situasi kembali tidak mudah.
Sumaya sempat tertinggal 3-0 dan kemudian 3-7 pada gim ketiga. Tetapi ia mampu mencetak empat angka berturut-turut untuk menyamakan kedudukan 7-7.
Setelah berbalik unggul 8-7, Sumaya terus menekan hingga akhirnya menutup gim ketiga dengan kemenangan 12-7.
Ia menang 7-12, 12-9, 12-7 dan memastikan tiket final sekaligus medali untuk Indonesia.
"Tenang dan fokus pada satu poin. Yang sudah berlalu, lebih baik ditinggalkan. Kami belajar dari latihan untuk tetap fokus pada setiap poin," kata Sumaya seperti dikutip Antara.
Final yang Menjadi Sejarah
Di final, Sumaya kembali bertemu lawan yang sebelumnya pernah mengalahkannya di fase grup: Wai Khin Hnin.
Pertemuan kedua berlangsung jauh lebih ketat.
Sumaya mampu mengambil set pertama 12-10. Namun, Wai Khin Hnin menemukan momentum dan merebut set kedua 12-8.
Pada set penentuan, Sumaya sempat unggul 4-1 dan kemudian 7-6.
Namun, momentum kembali berpindah ke kubu Myanmar. Wai Khin Hnin akhirnya memenangkan set ketiga 12-9 dan memastikan medali emas.
Sumaya harus puas dengan perak.
Tetapi medali tersebut tetap memiliki arti besar.
Ia menjadi bagian dari sejarah ketika teqball untuk pertama kalinya masuk dalam program Asian Games.
Keluarga yang Selalu Menjadi Kekuatan
Di balik perjalanan tersebut, keluarga tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan Sumaya.
Pangkalan Nyirih berada jauh dari pusat latihan. Namun, jarak tidak membuat komunikasi dengan orang tuanya terputus.
Sumaya rutin menghubungi keluarga untuk bercerita mengenai latihan maupun pertandingan yang akan dihadapinya.
Dukungan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan seorang atlet yang harus meninggalkan rumah untuk mengejar prestasi.
Ketika Sumaya memastikan diri meraih medali Asian Games, tangis orang tuanya pun pecah.
Bukan tangis kesedihan, melainkan kebahagiaan melihat perjuangan anak mereka berbuah podium di panggung Asia.
Atlet dan Mahasiswa
Perjalanan Sumaya tidak hanya berlangsung di arena olahraga.
Ia juga menjalani pendidikan sebagai mahasiswa program studi Administrasi Negara di Universitas Terbuka.
Kesibukan latihan dan pertandingan membuatnya harus membagi waktu antara olahraga dan pendidikan. Namun, keduanya tetap dijalani secara bersamaan.
Kini, medali perak Asian Games menjadi pencapaian internasional terbesar Sumaya sejauh ini.
Namun, ia tidak melihat kekalahan di final sebagai akhir perjalanan.
Justru pertandingan tersebut menjadi pengalaman untuk terus memperbaiki permainan dan menghadapi turnamen berikutnya.
Dari Pangkalan Nyirih ke Panggung Asia
Kisah Sumaya berawal dari sebuah keluarga sepak takraw di Pangkalan Nyirih.
Sejak kecil, ia mengenal olahraga dari orang tua dan saudara-saudaranya.
Ketika kesempatan untuk memperkuat sepak takraw tidak datang, sebuah cabang olahraga baru justru membuka jalan.
Dari teqball yang baru dikenalnya sekitar dua tahun lalu, Sumaya berkembang melalui latihan intensif, melewati fase grup, repechage, semifinal, hingga akhirnya tampil di final Asian Games.
Ia memang belum membawa pulang emas dari Nagoya.
Namun, Sumaya telah membawa pulang sesuatu yang tidak kalah penting: sebuah tempat dalam sejarah debut teqball di Asian Games.
Dari Pangkalan Nyirih ke Nagoya, perjalanan Sumaya menunjukkan bahwa jalan seorang atlet menuju panggung Asia tidak selalu dimulai dari cabang olahraga yang sama dengan tempat ia dibesarkan.
Bagi Sumaya, medali perak ini mungkin bukan garis akhir. Ini bisa menjadi awal dari perjalanan yang lebih panjang di teqball.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!