ID EN

Labuan Bajo Tak Hanya Komodo, Kemenpar Dorong Pengembangan Daya Tarik Wisata Baru

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 17:00

Penulis: Arif S

Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur
Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.. Foto: Kemenpar

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mendorong pengembangan lebih banyak destinasi dan daya tarik wisata di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, di luar kawasan Taman Nasional Komodo. Langkah ini untuk memperkaya pengalaman wisatawan sekaligus memperluas manfaat ekonomi pariwisata kepada masyarakat.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana bertemu dengan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, pelaku industri, dan sejumlah asosiasi pariwisata di Labuan Bajo.

Pertemuan tidak hanya membahas pemulihan sektor pariwisata setelah gempa pada 15 Agustus 2026, tetapi juga arah pengembangan Labuan Bajo untuk jangka menengah dan panjang.

Salah satu fokus utamanya memperbanyak Daya Tarik Wisata (DTW) sehingga wisatawan memiliki lebih banyak pilihan selain kawasan Taman Nasional Komodo.

Labuan Bajo Perlu Punya Lebih Banyak Pilihan Wisata

Menurut Widiyanti, pengembangan destinasi di kawasan darat menjadi bagian penting dalam strategi penguatan pariwisata Labuan Bajo.

Diversifikasi destinasi diharapkan dapat membuat wisatawan tidak hanya berkunjung ke satu kawasan, tetapi bergerak ke berbagai titik wisata. Dengan demikian, lama tinggal atau length of stay akan meningkat.

“Labuan Bajo memiliki potensi yang sangat besar, baik di laut maupun di darat. Ke depan, kita perlu terus memperkuat produk dan pengalaman wisata sehingga pergerakan wisatawan semakin tersebar, lama tinggal meningkat, dan manfaat ekonomi pariwisata dapat dirasakan semakin luas oleh masyarakat,” ujar Menpar Widiyanti.

Sejumlah kawasan yang dibahas untuk diperkuat dan ditata antara lain Pulau Kukusan, Pulau Kelor, dan Gua Rangko. Ketiganya menjadi bagian dari potensi yang dapat dikembangkan untuk memperluas pilihan wisatawan ketika berada di Manggarai Barat.

Aktivitas Wisata Pascagempa 

Di tengah rencana pengembangan destinasi, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat memastikan aktivitas pariwisata Labuan Bajo tetap berjalan setelah gempa 15 Agustus 2026.

Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi mengatakan pemerintah daerah bersama berbagai pemangku kepentingan tetap melakukan pemantauan dan memastikan kegiatan wisata mengutamakan keselamatan.

“Kunjungan wisatawan relatif sama dibandingkan sebelum gempa. Penerbangan domestik maupun internasional juga relatif stabil. Pemerintah daerah terus memastikan informasi kepada masyarakat dan wisatawan tersampaikan dengan baik, termasuk berkoordinasi dengan KSOP terkait keselamatan pelayaran,” kata Edistasius.

Kondisi itu memberikan ruang bagi pemerintah dan pelaku industri untuk tidak hanya memikirkan pemulihan, tetapi juga menyiapkan strategi pengembangan wisata setelah situasi kembali stabil.

Daya Tarik Baru untuk Perpanjang Lama Tinggal

Edistasius mengatakan pengembangan destinasi baru diperlukan agar wisatawan memiliki alasan untuk memperpanjang kunjungan.

Selama ini, Labuan Bajo dikenal luas sebagai pintu masuk menuju Taman Nasional Komodo. Namun, potensi Manggarai Barat dan wilayah Flores jauh lebih besar daripada wisata berbasis satwa dan laut.

Penguatan destinasi darat dapat membuat perjalanan wisatawan menjadi lebih beragam. Mereka dapat mengombinasikan wisata bahari dengan wisata alam, budaya, dan berbagai pengalaman lokal.

Dengan lama tinggal meningkat, peluang belanja wisatawan juga berpotensi meluas ke hotel, restoran, transportasi, pemandu wisata, pelaku UMKM, hingga masyarakat di sekitar destinasi.

Pengembangan Destinasi Dilakukan Bersama

Rencana pengembangan destinasi Labuan Bajo tidak hanya menjadi pekerjaan Kementerian Pariwisata. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, asosiasi, dan pelaku industri perlu bergerak bersama agar setiap kawasan dapat dikembangkan sesuai potensi dan kebutuhan.

Widiyanti menegaskan berbagai masukan yang disampaikan dalam pertemuan akan menjadi bahan tindak lanjut Kemenpar bersama kementerian dan lembaga terkait sesuai kewenangan masing-masing.

Pendekatan kolaboratif diperlukan karena pengembangan destinasi tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas. Kesiapan akses, kualitas pelayanan, keamanan, promosi, hingga keterlibatan masyarakat juga menentukan daya saing sebuah destinasi.

Pengembangan destinasi baru ditempatkan dalam kerangka lebih besar, yaitu membangun pariwisata Labuan Bajo lebih tangguh.

“Labuan Bajo harus pulih, dan pada saat yang sama kita ingin Labuan Bajo semakin tangguh dan semakin siap menghadapi berbagai risiko di masa depan. Kita ingin pariwisata terus bertumbuh, dengan keselamatan yang semakin kuat dan manfaat ekonomi yang semakin luas bagi masyarakat,” pungkas Menpar.***

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!