ID EN

Korea Selatan Punya Wajah Lain untuk Traveler: Menjelajah Gunung, Hutan, dan Desa Tradisional

Minggu, 6 September 2026 | 17:00

Penulis: Respaty Gilang

Wisata Korea Selatan
Wisata Korea Selatan.. Foto: Canva

Selama ini, Korea Selatan identik dengan gemerlap Seoul, kuliner, K-Pop, drama Korea, hingga destinasi belanja. Namun, negara ini ternyata menyimpan lanskap yang menawarkan pengalaman berbeda: pegunungan, hutan, jalur pendakian, dan desa-desa tradisional yang tersebar dari utara hingga selatan.

Potensi tersebut kini mulai serius dikembangkan untuk wisatawan mancanegara. Korea Selatan sedang menguji cara baru memperkenalkan negeri ginseng sebagai destinasi trekking internasional melalui program K-Trekking Challenge.

Sebanyak 11 pendaki asal Prancis menjadi kelompok pertama yang menjajal program tersebut. Mereka merupakan anggota Federation Francaise de la Randonnee Pedestre (FFRP), federasi hiking terbesar di Prancis.

Rombongan itu menjalani perjalanan selama 11 hari untuk mengeksplorasi berbagai lanskap Korea Selatan. Petualangan mereka dimulai dari Gunung Bukhansan yang berada tidak jauh dari pusat Seoul.

Mengutip The Korea Herald, Minggu, 6 September 2026, Menteri Kebudayaan Korea Selatan Chae Hwi-young menyambut langsung rombongan di Taman Nasional Bukhansan. Mereka juga didampingi Um Hong-gil, salah satu pendaki gunung Korea Selatan yang dikenal luas.

Kehadiran pendaki asal Prancis tersebut menjadi bagian dari uji coba perdana K-Trekking Challenge, program yang dikembangkan Korea Tourism Organization (KTO) bersama Korea National Park Service.

Melalui program ini, Korea Selatan ingin membawa pengalaman trekking keluar dari pasar domestik dan menjadikannya bagian dari produk wisata yang bisa dinikmati wisatawan internasional.

Menemukan Wajah Korea Selatan yang Berbeda

Bagi traveler yang selama ini mengenal Korea Selatan lewat wisata perkotaan, trekking menawarkan perspektif yang sama sekali berbeda.

Di jalur pendakian, perjalanan tidak hanya berurusan dengan ketinggian dan medan. Lanskap alam Korea juga berkelindan dengan sejarah, kuil, desa tradisional, hingga kawasan budaya yang telah bertahan selama berabad-abad.

Itulah yang coba ditawarkan dalam perjalanan FFRP kali ini.

Setelah menyelesaikan pendakian di Bukhansan, rombongan akan meneruskan perjalanan menuju Desa Hahoe di Andong, Namsan di Gyeongju, Geumjeongsan di Busan, Suncheonman Bay di Provinsi Jeolla Selatan, serta Gunung Jirisan.

Mereka juga akan merasakan pengalaman templestay di Hwaeomsa, Gurye.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa trekking di Korea Selatan tidak dirancang semata sebagai aktivitas olahraga. Perjalanan dapat dikemas sebagai kombinasi antara hiking, eksplorasi alam, wisata budaya, hingga pengalaman tinggal di lingkungan kuil.

Konsep semacam ini menarik bagi traveler modern yang mencari perjalanan lebih aktif sekaligus memiliki pengalaman lokal yang kuat.

Fasilitas Trekking Mulai Dibuat Ramah Wisatawan Asing

Korea Selatan juga mencoba menghilangkan salah satu hambatan yang kerap dihadapi wisatawan asing ketika ingin mencoba aktivitas outdoor: perlengkapan.

Melalui K-Trekking Challenge, wisatawan mancanegara dapat meminjam sepatu dan tongkat hiking secara gratis. Peserta juga mendapatkan suvenir berupa gantungan kunci.

Langkah tersebut terlihat sederhana, tetapi bisa menjadi nilai tambah bagi traveler yang ingin mencoba trekking tanpa harus membawa perlengkapan lengkap dari negara asal.

Program ini hadir setelah KTO melakukan promosi berbagai jalur trekking Korea Selatan di Prancis. Strategi tersebut kemudian mendapat respons dari FFRP, federasi yang telah berdiri sejak 1947 dan memiliki sekitar 240.000 anggota.

Sekitar 40 anggota FFRP dijadwalkan mengunjungi Korea Selatan dalam tiga kelompok. Setiap kelompok akan menjalani perjalanan selama 11 hari.

Dengan kata lain, 11 pendaki yang kini berada di Korea Selatan bukan sekadar wisatawan biasa. Mereka menjadi bagian dari upaya menguji bagaimana pengalaman trekking Korea dapat diterima oleh pasar internasional.

Modal Besar Korea Selatan: Pegunungan dan Hutan

Jika melihat kondisi geografisnya, keputusan Korea Selatan mengembangkan wisata trekking sebenarnya cukup masuk akal.

Sekitar 70 persen wilayah Korea Selatan merupakan pegunungan dan perbukitan. Kondisi geografis tersebut membuat aktivitas hiking memiliki ruang yang sangat luas untuk dikembangkan di berbagai wilayah.

Tidak hanya itu, kawasan hutan juga mencakup sekitar 63 persen wilayah negara tersebut berdasarkan data Korea Forest Service.

Proporsi tersebut menjadi modal penting untuk membangun pengalaman wisata berbasis alam. Traveler tidak harus selalu menuju kawasan terpencil untuk menemukan jalur pendakian karena sejumlah destinasi alam dapat dijangkau dari kawasan perkotaan.

Bukhansan menjadi salah satu contoh paling menarik. Gunung ini berada di kawasan Seoul sehingga menawarkan kombinasi yang cukup unik: traveler dapat menikmati atmosfer metropolitan Korea Selatan sekaligus melakukan pendakian di kawasan pegunungan dalam perjalanan yang sama.

Kombinasi alam dan kota inilah yang berpotensi membuat trekking Korea berbeda dari destinasi hiking konvensional.

"Korea memiliki empat musim yang berbeda, pegunungan yang indah dan beragam di seluruh negeri, serta sejarah dan budaya yang membuat aktivitas berjalan kaki menjadi menarik. Kami berharap kunjungan anggota federasi Prancis ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan trekking Korea kepada dunia," kata pejabat Kementerian Kebudayaan Korea Selatan.

Target 3 Juta Kunjungan ke Taman Nasional

Ambisi Korea Selatan tidak berhenti pada satu program percobaan.

KTO dan Korea National Park Service menargetkan 3 juta kunjungan wisatawan ke taman nasional hingga 2028. Target tersebut memperlihatkan bahwa wisata alam dan trekking mulai ditempatkan sebagai bagian penting dari strategi pariwisata Korea Selatan.

Bagi wisatawan internasional, pendekatan ini juga membuka pilihan baru. Korea Selatan tidak lagi hanya menawarkan itinerary berupa Seoul, Busan, atau Jeju, tetapi juga perjalanan yang mengajak wisatawan berjalan lebih jauh ke lanskap alam dan kawasan budaya.

Buat traveler Indonesia yang terbiasa dengan wisata alam, konsep tersebut menarik untuk diperhatikan. Empat musim juga memberikan karakter berbeda pada jalur pendakian Korea: lanskap hijau pada musim panas, warna-warni dedaunan saat musim gugur, hingga suasana bersalju pada musim dingin.

Pada akhirnya, kekuatan utama K-Trekking Challenge bukan hanya soal mendaki gunung. Korea Selatan sedang mencoba menjual sebuah cara baru untuk mengenal negaranya—lebih lambat, lebih aktif, dan lebih dekat dengan alam serta budaya lokal.

Jika strategi tersebut berhasil, perjalanan ke Korea Selatan di masa depan mungkin tidak lagi berhenti di pusat kota, kafe populer, atau lokasi syuting drama. Bisa jadi, langkah berikutnya justru membawa traveler mengenakan sepatu hiking dan menyusuri jalur pegunungan yang mengelilingi negeri tersebut.

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!