Menjelajah Trenggalek Lewat Festival Jaranan, Tradisi 30 Tahun yang Kini Masuk KEN 2026
Senin, 21 September 2026 | 13:50
Penulis: Respaty Gilang

Kalau biasanya traveling identik dengan berburu pantai, gunung, atau kuliner, Trenggalek menawarkan alasan lain untuk datang: menyaksikan denyut budaya lokal secara langsung.
Pada 20-26 September 2026, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, menjadi panggung Festival Jaranan Trenggalek Terbuka (FJTT) ke-30. Berlangsung di Alun-Alun Trenggalek, festival ini menghadirkan kesenian jaranan sekaligus menjadi bagian dari perjalanan panjang sebuah tradisi yang telah dipertahankan selama tiga dekade.
Yang membuat penyelenggaraan tahun ini semakin menarik bagi wisatawan adalah FJTT untuk pertama kalinya masuk dalam kalender Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026.
BACA JUGA
Traveling ke Bogor, Jangan Lewatkan Ruang Publik yang Jadi Panggung Seniman Lokal
6 Destinasi Indonesia Selain Bali yang Dipuji Media Travel Dunia
Wisata Kuliner dan Budaya Menyatu di Festival Rujak Uleg 2026 Surabaya
Masuknya festival ke dalam kalender KEN memberikan ruang promosi yang lebih luas bagi Trenggalek sekaligus memperkenalkan kesenian jaranan kepada publik di luar daerah.
Ribuan warga telah memadati Alun-Alun Trenggalek saat pembukaan festival pada Minggu, 20 September 2026. Selama tujuh hari, kawasan tersebut menjadi salah satu titik utama untuk melihat bagaimana seni tradisional tetap hidup di tengah masyarakat.
30 Tahun Menjaga Tradisi Jaranan Trenggalek
Bagi traveler yang tertarik dengan wisata budaya, usia penyelenggaraan menjadi salah satu daya tarik FJTT. Festival ini bukan acara yang baru muncul untuk mengejar tren pariwisata, melainkan telah berjalan selama 30 tahun.
Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini mengatakan masuknya FJTT ke dalam KEN hasil perjuangan panjang para pelaku seni dan budayawan melalui aspirasi yang disampaikan kepada Kementerian Pariwisata.
"Tahun ini menjadi momentum penting karena Festival Jaranan Trenggalek mendapat pengakuan nasional melalui KEN. Ini bukan hanya tentang festival, tetapi tentang upaya menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan dikenal lebih luas," katanya.
Jaranan sendiri tidak hanya ditempatkan sebagai hiburan dalam festival. Kesenian tersebut menjadi bagian dari identitas masyarakat sekaligus medium untuk meneruskan nilai dan tradisi dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, berkunjung saat FJTT berlangsung memberikan pengalaman yang berbeda dibanding sekadar melihat pertunjukan budaya dalam sebuah agenda wisata. Traveler bisa menyaksikan bagaimana komunitas seni dan masyarakat setempat mempertahankan tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Penjabat Sekretaris Daerah Trenggalek Triadi Admono menyebut keberlangsungan festival selama tiga dekade menjadi bukti komitmen masyarakat dan pemerintah daerah dalam menjaga tradisi.
"Selama 30 tahun festival ini terus bertahan dan berkembang. Ini menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab bersama untuk menjaga budaya yang dimiliki Kabupaten Trenggalek," ujarnya.
Masuk KEN, Membuka Pintu Trenggalek untuk Traveler
Bagi industri pariwisata, festival budaya memiliki fungsi lebih dari sekadar hiburan. Sebuah event dapat menjadi alasan bagi wisatawan untuk menentukan kapan mereka akan berkunjung ke sebuah daerah.
Asisten Deputi Strategi Event Kementerian Pariwisata Raden Wisnu Sindhutrisno menilai masuknya FJTT dalam KEN merupakan pengakuan atas konsistensi penyelenggaraan festival yang telah berlangsung selama 30 tahun.
Menurut dia, kegiatan berbasis budaya seperti FJTT memiliki peran strategis dalam menarik wisatawan, terutama pada periode musim sepi kunjungan wisata.
"Festival budaya menjadi alasan orang datang ke suatu daerah pada waktu tertentu. Jaranan memberi identitas yang khas bagi Trenggalek dan menjadi daya tarik yang sulit ditiru daerah lain," katanya.
Dari perspektif traveler, momentum seperti ini menarik karena perjalanan tidak hanya berorientasi pada destinasi, tetapi juga pengalaman.
Traveler dapat menjadikan festival sebagai titik utama perjalanan, kemudian mengeksplorasi suasana Trenggalek dan berbagai potensi wisata yang ada di sekitarnya. Dengan begitu, festival berfungsi sebagai pintu masuk untuk mengenal karakter sebuah daerah secara lebih dekat.
Tak Cuma Menonton, Ada Kompetisi hingga Ruang Komunitas
FJTT ke-30 juga menawarkan agenda yang lebih beragam daripada sekadar pertunjukan jaranan.
Ketua Penyelenggara FJTT 2026 Reza Jaya mengatakan festival tersebut tidak hanya menjadi ajang kompetisi seni tari jaranan, tetapi juga ruang belajar, berbagi pengalaman, dan memperkuat jejaring antar-kelompok seni.
Pada penyelenggaraan tahun ini, terdapat empat kategori lomba. Pertama, Turonggo Yakso bocah dengan 17 peserta. Berikutnya Turonggo Yakso remaja yang diikuti 17 peserta.
Sementara kategori Turonggo Yakso SLTA dan umum memiliki sembilan peserta. Adapun kategori non-Yakso SLTA dan umum diikuti 15 peserta.
Keberadaan kategori usia dan jenis pertunjukan tersebut memperlihatkan bagaimana festival menjadi ruang pertemuan berbagai kelompok dan generasi dalam ekosistem seni jaranan.
Selain kompetisi utama, FJTT 2026 juga memiliki agenda pendukung yang dapat menjadi bagian menarik bagi wisatawan yang ingin melihat sisi lain dari kehidupan komunitas seni lokal.
Salah satunya adalah Samboja atau Sambang Bolo Jaranan. Agenda ini menjadi ruang silaturahim sekaligus diskusi antar-komunitas jaranan.
Ada pula kegiatan refleksi bersama para perintis festival. Agenda tersebut menjadi kesempatan untuk menelusuri kembali perjalanan FJTT sejak pertama kali digelar hingga mampu bertahan selama tiga dekade.
FJTT dan Masa Depan Wisata Budaya Trenggalek
Masuknya FJTT ke KEN 2026 memberi babak baru bagi festival yang selama ini tumbuh dari ekosistem seni dan masyarakat Trenggalek.
Bagi traveler, festival seperti ini menawarkan jenis perjalanan yang semakin banyak dicari: pengalaman yang memungkinkan wisatawan mengenal budaya lokal secara langsung, bukan sekadar datang untuk mengambil foto.
Selama 20-26 September 2026, Trenggalek tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya sebu











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!