ID EN

Tips Memilih Waktu Terbang Bersama Anak Agar Lebih Nyaman dan Minim Jet Lag

Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:00

Penulis: Arif S

Pesawat Terbang
Ilustrasi - Moda transportasi pesawat terbang. . Foto: Envato

Merencanakan perjalanan udara bersama anak bukan hanya soal memilih maskapai atau menyiapkan barang bawaan. Waktu keberangkatan pesawat juga dapat memengaruhi kenyamanan anak selama perjalanan, terutama untuk penerbangan jarak jauh melintasi zona waktu.

Setiap kelompok usia memiliki pola tidur dan ritme biologis berbeda. Karena itu, waktu penerbangan yang nyaman untuk bayi belum tentu menjadi pilihan terbaik bagi anak usia sekolah atau remaja.

Dikutip dari laman Condé Nast Traveler, dokter anak sekaligus profesor klinis di New York University Julissa Baez mengatakan masih banyak orang tua menganggap bayi dan anak kecil tidak mengalami jet lag.

"Kesalahpahaman yang paling umum adalah bayi dan anak kecil tidak mengalami jet lag," ujar Baez.

Chief Executive dan Superintendent Pharmacist IQ Doctor Omar El-Gohary menambahkan waktu terbang ideal bergantung pada usia anak. Ia mengingatkan anggapan penerbangan malam selalu menjadi pilihan terbaik tidak selalu tepat untuk semua kelompok usia.

Selain itu, arah penerbangan turut memengaruhi proses adaptasi tubuh. Penerbangan ke arah timur umumnya terasa lebih berat dibandingkan perjalanan ke arah barat karena tubuh harus menyesuaikan diri dengan waktu lebih cepat.

Bayi 0-2 Tahun, Pilih Penerbangan Pagi

Untuk bayi berusia 0-2 tahun, penerbangan antara pukul 06.00 - 09.00 pagi dinilai lebih sesuai dengan pola tidur alami mereka.

Waktu tersebut dapat membantu menjaga rutinitas tidur malam bayi sehingga mereka tidak dipaksa untuk tidur di tengah perjalanan. 

Sebaliknya, penerbangan malam bisa menjadi tantangan jika bayi sulit terlelap di dalam pesawat.

"Bayi yang menolak tidur selama penerbangan malam bisa membuat orang tua menghadapi lebih dari 10 jam stimulasi berlebihan, tangisan, dan kelelahan di ruang yang sempit," katanya.

Baez menyarankan orang tua tidak datang ke bandara terlalu dini agar bayi tidak terlalu lama berada di lingkungan ramai. 

Saat pesawat lepas landas dan mendarat, bayi dapat menyusu untuk membantu mengurangi tekanan pada telinga.

Membawa satu mainan baru bisa menjadi cara sederhana untuk mengalihkan perhatian bayi selama penerbangan. 

Setelah tiba di tujuan, orang tua tidak perlu langsung memaksakan jadwal tidur sesuai zona waktu baru.

Anak Usia 2-4 Tahun, Beri Waktu untuk Bergerak

Bagi anak usia 2-4 tahun, penerbangan pada akhir pagi hingga awal siang dinilai lebih ideal.

Anak pada kelompok usia ini membutuhkan kesempatan untuk bergerak dan bermain. Memberikan waktu bagi mereka untuk beraktivitas di bandara sebelum naik pesawat dapat membantu anak lebih tenang selama perjalanan.

Gangguan jadwal tidur juga perlu menjadi perhatian karena dapat berdampak pada suasana hati anak.

"Gangguan rutinitas tidur dapat memicu ketidakstabilan emosi sepanjang hari," katanya.

Orang tua dapat membawa benda-benda yang sudah akrab dengan anak, seperti selimut, piyama, atau mainan favorit. Selain itu, hindari makanan dan minuman tinggi gula sebelum penerbangan karena dapat membuat anak semakin sulit tenang.

Tayangan favorit yang bisa diakses tanpa internet dapat disiapkan sebagai hiburan, sementara camilan sebaiknya diberikan secara bertahap sepanjang perjalanan.

Setelah tiba di tujuan, paparan cahaya matahari pada siang hari dapat membantu tubuh anak mulai menyesuaikan diri dengan zona waktu baru.

Anak Usia Sekolah Lebih Cocok Terbang pada Malam Hari

Untuk anak usia 5-12 tahun, penerbangan pukul 18.00-22.00 dinilai lebih efektif, khususnya untuk perjalanan jarak jauh.

Pada usia ini, ritme sirkadian anak mulai berkembang sehingga mereka cenderung lebih mudah tidur selama penerbangan malam. 

Kondisi tersebut dapat membantu mengurangi dampak jet lag setelah tiba di tempat tujuan.

"Ketika ritme biologis mulai matang, penerbangan malam menjadi lebih efektif untuk mengurangi jet lag pada perjalanan jarak jauh," kata El-Gohary.

Orang tua dapat menggeser jam tidur anak secara bertahap dua hingga tiga hari sebelum keberangkatan. 

Di dalam pesawat, anak dianjurkan tidur setelah makanan disajikan dan mengurangi penggunaan layar dengan tingkat kecerahan tinggi.

Mengubah jam tangan atau perangkat elektronik ke zona waktu tujuan sejak awal perjalanan juga dapat membantu anak memahami pola waktu baru.

Setelah mendarat, anak sebaiknya segera tidur atau mendapatkan paparan sinar matahari sesuai dengan waktu kedatangan agar ritme sirkadian dapat menyesuaikan diri secara bertahap.

Remaja Tetap Perlu Waspadai Jet Lag

Remaja berusia 13-18 tahun umumnya lebih mudah beradaptasi dengan penerbangan malam karena secara alami memiliki waktu tidur lebih larut.

Meski demikian, jet lag tetap dapat muncul dan memengaruhi kondisi mereka. Orang tua perlu memperhatikan gejala seperti mudah marah, sakit kepala, hingga menurunnya motivasi.

Baez menyarankan remaja mengurangi konsumsi kafein sebelum penerbangan dan memastikan kebutuhan cairan tetap tercukupi sebelum maupun selama perjalanan.

Jika tiba di tujuan pada siang hari, remaja sebaiknya tidak langsung tidur. Penggunaan gawai pada malam hari juga perlu dibatasi untuk mengurangi paparan cahaya biru yang dapat mengganggu proses adaptasi tubuh.

Pada hari pertama liburan, aktivitas ringan menjadi pilihan yang lebih baik agar tubuh memiliki waktu untuk menyesuaikan diri dengan zona waktu baru.***

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!