ID EN

Erupsi Gunung Anak Krakatau Ganggu Arus Wisatawan, Menpar Tetap Optimistis

Rabu, 9 September 2026 | 15:00

Penulis: Arif S

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana. . Foto: Antara/Ricky Prayoga

Erupsi Gunung Anak Krakatau beberapa hari lalu tidak hanya menjadi perhatian dari sisi kebencanaan. Aktivitas gunung api itu ikut memengaruhi pergerakan wisatawan setelah penutupan sejumlah bandara di Lampung, Banten, dan Jawa Barat mengganggu ribuan penerbangan.

Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mengatakan erupsi gunung api di Indonesia memberikan dampak terhadap sektor pariwisata. Ia mencontohkan erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengganggu hampir 3.000 penerbangan domestik dan internasional.

Gangguan penerbangan itu berdampak pada sekitar 340.000 penumpang. Kondisi itu terjadi setelah sekitar tujuh bandara di wilayah Lampung, Banten, dan Jawa Barat ditutup untuk sementara.

"Jadi ya ada dampaknya. Dampaknya (erupsi Gunung Anak Krakatau saja) angkanya 340 ribu penumpang dan ada 3.000 lebih pesawat yang ter-cancel dan reschedule juga," ujarnya usai prosesi wisuda di Poltekpar NHI Bandung, Selasa.

Tujuh Bandara Kembali Dibuka

Kabar baik datang setelah tujuh bandara terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau kembali beroperasi. Widiyanti bersyukur gangguan penerbangan tidak berlangsung lebih lama karena aktivitas transportasi udara menjadi salah satu bagian penting dalam pergerakan wisatawan menuju berbagai destinasi di Indonesia.

"Mudah-mudahan tidak berkepanjangan, karena ini sangat berdampak pada pariwisata kita yang tadi kita sampaikan sudah tumbuh 5,23 persen itu kami ingin tetap dorong. Nah, kita harus bekerja maksimal, lebih keras lagi untuk mempromosikan dan meningkatkan kualitas pariwisata Indonesia," katanya.

Sebelumnya, Kementerian Perhubungan mengungkapkan erupsi Gunung Anak Krakatau menyebabkan sedikitnya tujuh bandara di Lampung, Banten, dan Jawa Barat ditutup. Kondisi tersebut mengganggu 2.961 penerbangan domestik dan internasional dengan sekitar 341.000 penumpang terdampak.

Gangguan itu datang ketika industri pariwisata Indonesia tengah berada dalam tren pertumbuhan positif. Berdasarkan data BPS, sepanjang Januari hingga Juli 2026, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) mencapai 8,98 juta kunjungan.

Jumlah itu meningkat 5,23 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sekaligus menjadi capaian tertinggi sejak 2020.

Wisatawan Malaysia Masih Mendominasi

Dari sisi negara asal, wisatawan pemegang paspor Malaysia menjadi penyumbang kunjungan wisman terbesar ke Indonesia sepanjang periode itu. Wisatawan Malaysia menyumbang 15 persen dari total kunjungan.

Australia berada di posisi berikutnya dengan kontribusi 12,34 persen, disusul wisatawan China sebesar 10,28 persen.

Data itu menunjukkan besarnya pergerakan wisatawan mancanegara ke Indonesia ketika sektor pariwisata masih berusaha mempertahankan momentum pertumbuhannya.

Karena itu, gangguan penerbangan akibat erupsi gunung api menjadi tantangan tersendiri. Selain berpotensi memengaruhi perjalanan wisatawan mancanegara, kondisi tersebut juga dapat menghambat mobilitas wisatawan nusantara menuju sejumlah destinasi.

Menpar Tetap Optimistis

Meski menghadapi dampak erupsi sejumlah gunung api, Widiyanti tetap optimistis melihat peluang pertumbuhan pariwisata Indonesia. Menurutnya, momentum positif yang sedang berlangsung harus dijaga dengan strategi lebih adaptif.

Pemerintah terus mendorong kedatangan wisatawan mancanegara sekaligus memperkuat perjalanan wisatawan nusantara. Dukungan lintas kementerian menjadi bagian penting, terutama ketika sektor pariwisata menghadapi gangguan seperti penutupan bandara.

"Kita harus optimistis tentunya. Kita tentu harus adaptif ya merubah strategi. Bagaimana mendorong wisatawan mancanegara datang dan juga wisatawan nusantara itu adalah kekuatan kita. Kami juga didukung oleh kementerian lain termasuk saat menangani gangguan penerbangan. Jadi, kami harap ini bisa dipertahankan dan kita tetap optimis ya, tetap berdoa," katanya.

Bagi pariwisata Indonesia, pulihnya operasional bandara menjadi langkah penting untuk menjaga arus wisatawan. Di tengah potensi gangguan akibat aktivitas vulkanik, pemerintah dituntut tetap sigap sekaligus menjaga promosi dan kualitas destinasi agar tren pertumbuhan pariwisata tidak terhenti.***



Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!