Dari Luka ASEAN Hyundai Cup ke FIFA ASEAN Cup 2026: Ujian Sebenarnya John Herdman
Kamis, 13 Agustus 2026 | 12:02
Penulis: Rojes Saragih

Jakarta - Ada jarak yang pendek antara kegagalan dan kesempatan kedua Timnas Indonesia.
Pada 7 Agustus 2026, Indonesia tersingkir dari ASEAN Hyundai Cup (Piala AFF 2026) setelah bermain imbang 1-1 melawan Singapura di Stadion Jalan Besar. Hasil itu membuat Garuda finis di posisi ketiga Grup A dengan tujuh poin, di bawah Vietnam dan Singapura. Singapura lolos ke semifinal dengan keunggulan hanya satu poin atas Indonesia.
Kini, John Herdman memiliki kesempatan untuk menjawab kegagalan tersebut.
BACA JUGA
Harga Tiket Laga Kandang Timnas Indonesia di Piala AFF 2026 Mulai Rp100 Ribu
FIFA Match Day Juni 2026: PSSI Jual 35.000 Tiket untuk Dua Laga Timnas Indonesia
Jadwal Padat Menanti, Ujian Awal John Herdman Bersama Timnas Indonesia
Bukan di turnamen yang sama. Bukan pula dengan sekadar mengulang komposisi dan pendekatan yang lama.
Indonesia akan memasuki panggung baru bernama FIFA ASEAN Cup 2026.
Dan kali ini, panggungnya berbeda.
Turnamen itu berstatus resmi FIFA dan dijadwalkan berlangsung pada periode FIFA Matchday September-Oktober. Indonesia menjadi tuan rumah Premier Division, sementara pemerintah Indonesia memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraannya.
Karena itu, FIFA ASEAN Cup tidak semestinya dipandang hanya sebagai turnamen berikutnya setelah ASEAN Hyundai Cup.
Ini adalah ujian pertama apakah evaluasi PSSI, janji pembenahan Herdman, dan rasa lapar para pemain benar-benar menghasilkan perubahan.
Kegagalan yang Tidak Bisa Ditutup dengan Dominasi
Ada satu fakta yang membuat kegagalan Indonesia di ASEAN Hyundai Cup menarik untuk dibaca lebih dalam.
Garuda bukan tim yang tidak mampu mencetak gol.
Indonesia mengakhiri fase grup dengan sembilan gol dari empat pertandingan dan mengumpulkan tujuh poin. Tetapi produktivitas tersebut tidak cukup membawa mereka ke semifinal.
Singapura hanya mencetak lima gol, tetapi mengumpulkan delapan poin dan lolos.
Perbedaannya hanya satu poin.
Dan satu poin itu lahir dari pertandingan terakhir ketika Indonesia gagal mempertahankan keunggulan atas Singapura.
Indonesia sempat unggul melalui Ragnar Oratmangoen pada menit ke-47. Namun Singapura menyamakan kedudukan melalui Ilhan Fandi pada menit ke-66. Hasil 1-1 tersebut memastikan Singapura finis di posisi kedua Grup A.
Dengan demikian, persoalan Indonesia tidak bisa disederhanakan menjadi kurangnya kualitas pemain atau ketidakmampuan menciptakan peluang.
Herdman sendiri mengakui Indonesia memiliki penguasaan bola, kontrol pertandingan dan cukup peluang untuk memenangkan laga.
Tetapi kemenangan tidak ditentukan oleh seberapa lama sebuah tim menguasai bola.
Kemenangan ditentukan oleh kemampuan mengendalikan momen-momen penting.
Dan di situlah Indonesia gagal.
Herdman Memilih Membenahi, Bukan Menyalahkan
Setelah tersingkir, Herdman sebenarnya bisa saja menghabiskan energi untuk membicarakan kepemimpinan wasit.
Ia memang tidak puas dengan keputusan wasit dalam pertandingan melawan Singapura. Namun pelatih asal Inggris tersebut memilih tidak memperpanjang persoalan itu.
Baginya, membicarakan wasit terlalu lama hanya akan membawa tim ke persoalan lain.
Herdman justru mengarahkan perhatian kepada timnya sendiri.
"Kami akan membenahi semua itu dan kembali dengan semangat baru, benar-benar semangat yang baru," kata Herdman.
Ia juga mengidentifikasi salah satu pelajaran terbesar dari kegagalan tersebut: kemampuan mengendalikan emosi dan tetap fokus terhadap tugas.
Kesalahan-kesalahan kecil, menurut Herdman, telah merugikan tim.
Maka FIFA ASEAN Cup akan menjadi kesempatan untuk melihat apakah evaluasi tersebut berhenti sebagai pernyataan atau benar-benar berubah menjadi pendekatan baru di lapangan.
Klok Membawa Rasa Sakit ke Ruang Ganti
Pesan Herdman mendapat dukungan dari Marc Klok.
Gelandang berusia 33 tahun itu tidak mencoba menutupi kekecewaannya setelah Indonesia gagal lolos.
"Hancur. Sakit. Benar-benar sakit. Kami tersingkir. Dan sekali lagi, kami gagal mengangkat trofi itu," kata Klok dalam unggahan Instagram-nya pada Senin, 10/08/2026.
Tetapi justru setelah mengakui rasa sakit tersebut, Klok berbicara tentang apa yang harus dilakukan berikutnya.
"Kami belajar dari pengalaman ini. Menerima rasa sakitnya. Mengabaikan kebisingan di luar sana. Kembali bekerja. Tetap tegakkan kepala. Lalu kembali dengan rasa lapar yang lebih besar dari sebelumnya."
Pesan tersebut penting.
Sebab tim yang gagal tidak selalu harus dibongkar.
Terkadang yang dibutuhkan adalah tim yang sama dengan pemahaman yang berbeda terhadap pertandingan.
Indonesia sudah memiliki pengalaman tentang bagaimana dominasi bisa kehilangan makna ketika tidak menghasilkan kemenangan.
Sekarang para pemain harus membawa pengalaman itu ke kompetisi berikutnya.
Klok bahkan menutup pesannya dengan kalimat yang menggambarkan sikap ruang ganti.
"Kami belum selesai. Bahkan belum mendekati kata selesai."
Kali Ini Herdman Bisa Memiliki Kekuatan Penuh
Ada satu perbedaan besar antara ASEAN Hyundai Cup dan FIFA ASEAN Cup.
FIFA ASEAN Cup berlangsung dalam periode FIFA Matchday.
Artinya, peluang pemain-pemain Indonesia yang bermain di luar negeri untuk bergabung menjadi lebih besar. Erick Thohir juga memastikan Indonesia berpeluang menurunkan pemain terbaiknya, meskipun kondisi pemain dan kemungkinan cedera tetap harus diperhitungkan.
Bagi Herdman, ini bukan detail kecil.
Ini bisa mengubah kualitas tim secara signifikan.
Jika pada ASEAN Hyundai Cup terdapat keterbatasan dalam pemanggilan pemain, FIFA ASEAN Cup memberikan ruang lebih besar bagi Herdman untuk membangun skuad berdasarkan kebutuhan taktiknya.
Karena itu, tidak ada lagi alasan untuk sekadar mengatakan Indonesia membutuhkan waktu.
Waktu memang ada.
Skuad terbaik juga berpeluang tersedia.
Yang harus terlihat kemudian adalah peningkatan kualitas permainan.
Target Juara Sudah Ditetapkan
Tekanan terhadap John Herdman sebenarnya bukan baru muncul setelah Indonesia tersingkir dari ASEAN Hyundai Cup.
Sejak sebelum turnamen, Herdman sudah menempatkan FIFA ASEAN Cup sebagai kompetisi yang harus dimenangkan. Pelatih asal Inggris itu ingin Indonesia membawa pulang trofi dan menunjukkan diri sebagai salah satu kekuatan utama di Asia Tenggara.
Karena itu, kegagalan di ASEAN Hyundai Cup tidak mengubah target tersebut. Justru sebaliknya, kegagalan itu membuat target juara FIFA ASEAN Cup menjadi ujian yang lebih nyata bagi Herdman.
Ia bukan hanya dituntut membuat Indonesia bermain lebih baik.
Ia harus membuktikan bahwa pembenahan yang dijanjikannya mampu membawa tim memenangkan pertandingan dan pada akhirnya memenangkan turnamen.
Secara finansial, kompetisi ini juga memiliki bobot. Juara Premier Division mendapat hadiah US$1 juta atau sekitar Rp17,8 miliar. Namun uang bukan inti persoalannya.
Bagi Indonesia, nilai sebenarnya terletak pada kesempatan memenangkan trofi dalam turnamen berlabel resmi FIFA, pada periode FIFA Matchday, ketika peluang untuk menghadirkan pemain-pemain terbaik terbuka lebih besar.
Kemenpora juga menegaskan status FIFA ASEAN Cup sebagai ajang resmi FIFA yang masuk kalender FIFA Matchday September-Oktober 2026.
Setelah tiga dekade menunggu trofi tingkat Asia Tenggara, kesempatan seperti ini tentu tidak datang tanpa tekanan.
Panggungnya Bahkan Disiapkan Negara
Yang membuat tantangan Herdman semakin besar adalah skala persiapan turnamen.
Pemerintah pusat tidak memperlakukan FIFA ASEAN Cup sebagai pertandingan sepak bola biasa.
Presiden Prabowo Subianto memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan turnamen tersebut. Pemerintah juga telah menerbitkan Government Guarantee yang dikirimkan kepada FIFA.
Erick menyebut FIFA ASEAN Cup sebagai event FIFA terbesar setelah World Cup dan menyebut penyelenggaraan perdana di Indonesia sebagai momentum bersejarah. Menurut Erick, status turnamen yang masuk kalender FIFA Matchday juga memungkinkan Timnas Indonesia diperkuat jajaran pemain terbaiknya.
Jakarta dan Jawa Barat menjadi daerah penyelenggara. Pemerintah daerah, kepolisian, PSSI dan pemerintah pusat bergerak dalam persiapan yang sama.
Dengan kata lain, panggungnya sedang dipersiapkan dengan serius.
Pertanyaannya sekarang bukan apakah Indonesia siap menjadi tuan rumah.
Pertanyaannya: apakah Timnas Indonesia siap menjadi juara?
Jakarta dan Bandung Menyiapkan Rumah untuk Garuda
Persiapan itu terlihat konkret.
Di Jakarta, pemerintah daerah menyiapkan Lapangan Banteng dan GOR Soemantri Brodjonegoro sebagai lapangan latihan. Jakarta International Stadium sebenarnya ditawarkan, tetapi tidak digunakan karena memiliki agenda konser.
Di Bandung, Stadion Si Jalak Harupat dipersiapkan sebagai salah satu venue.
Stadion tersebut memiliki pengalaman menjadi venue Piala Dunia U-17 2023 sehingga pemerintah daerah sudah memiliki modal dalam memenuhi standar pertandingan internasional.
Rumput, lampu, fasilitas pemain, sanitasi, kebersihan dan sejumlah fasilitas pendukung akan kembali dievaluasi menjelang asesmen FIFA.
Artinya, dari sisi penyelenggaraan, Indonesia sedang berusaha memastikan tidak ada persoalan besar.
Negara menyiapkan panggung. Kota menyiapkan stadion. PSSI menyiapkan skuad. Herdman harus menyiapkan jawaban.
India Mundur, Peta Persaingan Berubah
Namun menjelang turnamen, panggung FIFA ASEAN Cup kembali berubah.
India, yang sebelumnya berada di Grup A bersama Indonesia, Malaysia dan Singapura, resmi menyatakan tidak dapat mengikuti FIFA ASEAN Cup 2026.
All India Football Federation memilih memprioritaskan laga persahabatan melawan Brasil pada periode FIFA Matchday. Pertandingan India melawan Brasil dijadwalkan berlangsung di Kolkata pada 3 Oktober, bertepatan dengan jadwal final FIFA ASEAN Cup.
Keputusan itu membuat India memilih kesempatan menghadapi Brasil sebagai prioritas. Presiden AIFF Kalyan Chaubey menyebut laga tersebut penting bagi perkembangan sepak bola India, sementara federasinya juga mempertimbangkan keterbatasan jumlah pertandingan yang dapat dimainkan dalam jeda internasional tersebut.
Dengan mundurnya India, komposisi Grup A berubah.
Namun belum tepat menyimpulkan bahwa Indonesia otomatis mendapat keuntungan kompetitif.
FIFA masih perlu menetapkan mekanisme akhir setelah perubahan komposisi peserta tersebut. Karena itu, belum ada dasar untuk memastikan apakah India akan digantikan atau bagaimana format Grup A akan disesuaikan.
Yang pasti, satu calon lawan telah keluar.
Dan satu lawan yang sangat familiar masih ada.
Singapura.
Singapura Kembali Menjadi Cermin
Ada cerita yang membuat FIFA ASEAN Cup semakin menarik.
Beberapa pekan setelah menghentikan Indonesia di ASEAN Hyundai Cup, Singapura tetap menjadi bagian penting dari persaingan Garuda di kompetisi baru.
Herdman bahkan mengatakan dirinya tidak sabar untuk kembali menghadapi Singapura.
"Saya sudah tidak sabar untuk kembali menghadapi Singapura. Saat itu pasti akan tiba," ujarnya.
Namun pertandingan itu seharusnya tidak diperlakukan sebagai pertandingan balas dendam.
Singapura justru harus menjadi cermin.
Jika Indonesia kembali menguasai permainan tetapi gagal menyelesaikan peluang, berarti masalah belum terpecahkan.
Jika kembali kehilangan konsentrasi pada momen penting, maka evaluasi Herdman belum menghasilkan perubahan.
Tetapi jika kali ini Indonesia mampu mengontrol pertandingan, lebih klinis di depan gawang dan lebih disiplin ketika berada dalam tekanan, maka publik memiliki alasan untuk percaya bahwa kegagalan ASEAN Hyundai Cup memang telah menghasilkan sesuatu.
Format Membuat Kesalahan Semakin Mahal
Sebelum India mundur, Premier Division FIFA ASEAN Cup dirancang dengan delapan tim yang dibagi ke dalam dua grup. Juara masing-masing grup langsung melaju ke final tanpa semifinal.
Dengan mundurnya India, format Grup A kini membutuhkan penyesuaian atau penjelasan lebih lanjut dari FIFA.
Namun satu prinsip tidak berubah.
Ruang untuk melakukan kesalahan tetap menjadi persoalan utama.
Herdman tidak datang ke turnamen ini hanya untuk membuat Indonesia tampil lebih baik.
Ia membawa target juara.
Karena itu, apa pun mekanisme akhir yang ditetapkan FIFA setelah India mundur, Indonesia harus mampu menjadi tim terbaik dalam grupnya jika ingin mencapai final.
Dan di sinilah pengalaman ASEAN Hyundai Cup kembali relevan.
Indonesia tahu bagaimana rasanya memiliki sembilan gol, tujuh poin dan tetap tersingkir.
Kini Herdman harus memastikan pengalaman itu tidak terulang.
Kesempatan Kedua Herdman
Pada akhirnya, cerita FIFA ASEAN Cup 2026 bukan tentang bagaimana Indonesia melupakan kegagalan ASEAN Hyundai Cup.
Justru sebaliknya.
Indonesia harus mengingat kegagalan itu dengan cara yang benar.
Erick Thohir sudah memastikan evaluasi.
Herdman menjanjikan pembenahan.
Klok meminta pemain kembali bekerja dengan rasa lapar yang lebih besar.
PSSI membuka peluang bagi skuad terbaik.
Pemerintah menyiapkan dukungan penuh.
Jakarta dan Bandung menyiapkan stadion serta fasilitas.
India kemudian memilih keluar untuk menghadapi Brasil.
Dan Singapura, lawan yang baru saja menghentikan Indonesia, masih menjadi bagian dari cerita.
Semua jalan kini mengarah kepada Herdman.
Pelatih asal Inggris itu mendapatkan sesuatu yang sangat berharga setelah sebuah kegagalan: kesempatan kedua.
Namun kesempatan kedua selalu memiliki konsekuensi.
Publik tidak lagi hanya ingin mendengar bahwa tim akan belajar.
Mereka ingin melihat hasil dari pembelajaran itu.
Sebab kegagalan baru akan memiliki arti jika mampu melahirkan perubahan.
Dan FIFA ASEAN Cup 2026 adalah tempat pertama untuk menguji apakah "semangat baru" Herdman dan "rasa lapar" Klok benar-benar ada.
ASEAN Hyundai Cup telah memberi Indonesia luka.
Kini FIFA ASEAN Cup memberikan kesempatan untuk mengubah luka itu menjadi trofi.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!